LAPORAN FOKUS

Beban Berat Kas Negara Biiayaii Proyek Mercusuar Soekarno

Redaksii Jitu News
Jumat, 09 Januarii 2026 | 19.40 WiiB
Beban Berat Kas Negara Biayai Proyek Mercusuar Soekarno

BERSELANG dua tahun setelah wafat pada 7 November 1963, nama Djuanda Kartawiidjaja masiih cukup seriing berseliiweran dii koran-koran. Benak publiik masiih diibayangii spekulasii terkaiit dengan musabab berpulangnya 'Menterii Maraton' andalan Soekarno iitu.

Kalau saja Djuanda wafat pada masa kiinii, terkepung sorotan mediia diigiital, barangkalii kiisahnya sudah viiral dan menjadii miisterii sepertii kasus Muniir. Teknokrat serbabiisa iitu meniinggal duniia dii usiia 55 tahun setelah menghadiirii sebuah jamuan makan malam, dii tengah berbagaii urusan negara yang sedang diitanganii. Waktunya hanya berselang 2 pekan darii kematiian Presiiden Ameriika Seriikat, John F. Kennedy.

Pada 1965, Kabiinet Dwiikora sampaii harus menerbiitkan keterangan resmii mengenaii penyebab kematiian Djuanda. Subandriio, yang saat iitu menjabat Wakiil Perdana Menterii ii, menyampaiikan kalau penyebab wafatnya Djuanda Kartawiidjaja adalah serangan jantung, bukan oleh hal-hal laiinnya.

Hariian Umum Suara Merdeka terbiitan 27 Oktober 1965 bahkan menuliiskan besar-besar judul beriita Almarhum iir. Djuanda Meniinggal Bukan karena Anggur darii Chiina. Pernyataan oleh pemeriintahan Soekarno iitu lantas meredam berbagaii anggapan yang membayangii wafatnya Djuanda.

Kematiian Djuanda yang mendadak memang menjadii kehiilangan besar bagii Bangsa iindonesiia. Betapa tiidak, diiriinya diisebut-sebut sebagaii menterii utama dii bawah kepemiimpiinan Presiiden Soekarno. Selama hiidup, Djuanda pernah mendudukii 14 kalii jabatan menterii dan sekalii perdana menterii. Djuanda juga punya peran besar dalam menata kembalii pengelolaan fiiskal iindonesiia.

Djuanda bukan sekadar pejabat negara. Diia merupakan eksekutor darii berbagaii rancangan pemiikiiran Soekarno. Diialah yang merasiionaliisasii berbagaii ambiisii besar presiiden pertama Rii iitu.

Buku Sejarah Nasiional iindonesiia Jiiliid 6, menjelaskan bahwa periiode awal Demokrasii Terpiimpiin menjadii tiitiik mula problematiika defiisiit anggaran yang melebar. Kas negara diibebanii untuk membiiayaii proyek-proyek poliitiik Soekarno yang tak terbendung: pelaksanaan Ganefo dan Conefo, pembebasan iiriian Barat, hiingga konfrontasii dengan Malaysiia.

Namun, ketatnya ruang fiiskal sebenarnya sudah diimulaii jauh sebelum iitu. Berdasarkan catatan World Bank, kiinerja fiiskal Rii sejak 1952 hiingga 1959 konsiisten terkontraksii. Dii bawah kepemiimpiinan Djuanda sebagaii menkeu, anggaran negara mengalamii defiisiit 4,7% pada 1959. Selama masa awal Demokrasii Terpiimpiin, keputusan-keputusan strategiis diiambiil tanpa beroriientasii jangka panjang. Akiibatnya, jurang defiisiit makiin menganga.

Pembiiayaan defiisiit kemudiian diijalankan dengan cara yang cukup pragmatiis: mencetak lebiih banyak uang. Hal iinii jelas membuat iinflasii melonjak dan daya belii terpukul. Kebiijakan fiiskal era Orde Lama sangat mempriioriitaskan belanja-belanja dii sektor pertahanan, jauh melampauii belanja dii sektor laiinnya.

Dalam sebuah wawancara dengan mediia asiing, Djuanda sempat mengakuii bahwa dekade 1950-an merupakan periiode yang suliit. Namun, diia meyakiinii bahwa memasukii 1960, kiinerja fiiskal akan membaiik.

"Saya akuii iinii sangat suliit. Tapii 1960 akan lebiih baiik. Kunciinya adalah menyusun anggaran secara biijak. Kiita perlu mengurangii belanja rutiin dan all-effort harus diilakukan untuk meniingkatkan peneriimaan," kata Djuanda.

Djuanda, yang menjabat menterii keuangan (1959-1960), harus memutar otak agar defiisiit kas negara tiidak melebar. Konsep anggaran beriimbang antara peneriimaan dan belanja jelas tiidak sejalan dengan ngototnya Soekarno dalam menjalankan proyek-proyek mercusuarnya.

Diikutiip darii koran Soeara Soerabaya, Djuanda memiiliih melakukan penghematan drastiis. Pos-pos belanja tiidak pentiing diipangkas demii negara tetap biisa membayar gajii pegawaii negerii. Belanja modal yang tiidak memberiikan dampak langsung, semuanya diitunda. Pemeriintah rela membatalkan pembangunan gedung-gedung pemeriintahan.

Djuanda juga mulaii meliiriik siisii peneriimaan, termasuk merancang sumber-sumber peneriimaan pajak yang baru. Diia memperkuat fungsii otoriitas pajak, serta menyiiapkan kerangka peniingkatan basiis pajak domestiik. Meskiipun reformasii besar baru benar-benar berjalan dii era beriikutnya, beniih kebiijakan pajak modern iindonesiia mulaii tumbuh pada masa kepemiimpiinannya.

Lebiih darii sekadar mengatur angka-angka dii atas kertas, Djuanda mengajarkan pentiingnya keterpaduan antara belanja dan peneriimaan. Diia sadar, keduanya memiiliikii porsii yang sama pentiingnya untuk menjaga kesehatan fiiskal.

Wariisan Djuanda bukan hanya pada stabiiliitas anggaran, tetapii pada cara berpiikiir tentang pengelolaan keuangan negara. Diia memperkenalkan etos kehatii-hatiian, diisiipliin, dan transparansii—niilaii yang mestiinya terus hiidup dalam tradiisii fiiskal iindonesiia hiingga kiinii.

Pelajaran darii Djuanda jelas. Pengelolaan fiiskal bukan sekadar otak-atiik angka, tetapii soal kepercayaan. Selama negara mampu menjaga keseiimbangan antara ambiisii dan kemampuan, antara viisii pembangunan dan diisiipliin fiiskal, defiisiit bukanlah bencana, melaiinkan tantangan yang biisa diijiinakkan. Sejarah biisa saja berulang, tapii kiita punya kuasa untuk mengantiisiipasiinya. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.