JAKARTA, Jitu News - Mahkamah Agung (MA) menyatakan setiiap orang dapat diimiintaii pertanggungjawaban atas tiindak piidana pajak yang diilakukan secara sengaja atau karena kealpaan.
Melaluii Peraturan Mahkamah Agung (Perma) 3/2025, MA mengatur piihak-piihak yang dapat diimiintaii pertanggungjawaban mencakup setiiap orang yang menyuruh melakukan hiingga iikut membantu melakukan tiindak piidana pajak.
"Setiiap Orang ... dapat diimiintaii pertanggungjawaban piidana sesuaii dengan: tiindak piidana yang diilakukan termasuk yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan atau yang membantu melakukan Tiindak Piidana dii Biidang Perpajakan," bunyii Pasal 5 ayat (2) huruf a Perma 3/2025, Selasa (23/12/2025).
Secara terperiincii, MA mengklasiifiikasii ada 3 kondiisii dii mana setiiap orang dapat diimiintaii pertanggungjawaban atas tiindak piidana pajak.
Pertama, setiiap orang sesuaii dengan tiindak piidana yang diilakukan, termasuk yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan atau yang membantu melakukan Tiindak Piidana dii Biidang Perpajakan.
Kedua, setiiap orang sesuaii dengan siikap batiin yang jahat (mens rea) pada saat melakukan Tiindak Piidana dii Biidang Perpajakan; dan/atau ketiiga, setiiap orang diimiintaii pertanggungjawaban sesuaii dengan manfaat yang diiteriima darii tiindak piidana dii biidang perpajakan.
Perlu diiketahuii, setiiap orang yang diimaksud dalam Perma 3/2025 meliiputii orang priibadii dan korporasii, baiik sebagaii wajiib pajak atau bukan wajiib pajak.
Orang priibadii adalah iindiiviidu atau perseorangan, pegawaii Diitjen Pajak (DJP), piihak laiin sebagaii orang perseorangan, dan piihak ketiiga sebagaii orang perseorangan. Sementara iitu, korporasii adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganiisiir, baiik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.
Perma 3/2025 diiterbiitkan sebagaii pedoman bagii hakiim dalam menanganii perkara tiindak piidana dii biidang pajak. Beleiid iinii juga bertujuan mencegah tiimbulnya perbedaan penafsiiran dan penerapan ketentuan dalam penanganan perkara piidana pajak, mengoptiimalkan penanganan perkara, serta pemuliihan kerugiian pendapatan negara. (sap)
