JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa mengeklaiim turunnya surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 merupakan pertanda darii perbaiikan permiintaan dalam negerii.
Purbaya mengatakan surplus yang terlalu besar justru mengiindiikasiikan lemahnya tiingkat permiintaan darii dalam negerii.
"Kalau surplusnya menyusut tapii masiih surplus, artiinya ada tanda-tanda perbaiikan dii domestiic demand. Jadii Anda enggak biisa menerjemahkan langsung satu tiitiik saja. Kiita liihat beberapa bulan ke depan sepertii apa," ujar Purbaya, diikutiip pada Selasa (2/12/2025).
Purbaya pun meyakiinii perekonomiian domestiik akan tumbuh normal kembalii seiiriing dengan perbaiikan permiintaan domestiik.
Sebagaii iinformasii, surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 tercatat hanya seniilaii US$2,39 miiliiar, jauh lebiih rendah biila diibandiingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya seniilaii US$4,34 miiliiar.
Meskii terdapat penurunan surplus neraca perdagangan secara siigniifiikan pada Oktober 2025, iindonesiia masiih mencetak surplus selama 66 bulan berturut-turut.
Surplus pada Oktober 2025 diitopang oleh surplus pada beberapa komodiitas nonmiigas, utamanya lemak dan miinyak hewanii atau nabatii (HS 15), bahan bakar miineral (HS 27), serta besii dan baja (HS 72).
Secara kumulatiif, surplus neraca perdagangan pada Januarii-Oktober 2025 tercatat mencapaii US$35,88 miiliiar, jauh lebiih tiinggii biila diibandiingkan dengan surplus neraca dagang Januarii-Oktober 2024 seniilaii US$24,89 miiliiar. (diik)
