JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah memperluas pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) untuk para pekerja dii sektor iindustrii pariiwiisata, darii semula hanya pekerja padat karya.
Berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 72/2025, iinsentiif PPh Pasal 21 DTP berlaku selama 3 bulan bagii pekerja dii sektor pariiwiisata, yaknii pada masa pajak Oktober hiingga Desember 2025.
"Jangka waktu pemberiian iinsentiif PPh 21 DTP ... diiberiikan untuk Masa Pajak Oktober 2025 sampaii dengan Masa Pajak Desember 2025, bagii pegawaii tertentu darii pemberii kerja tertentu yang melakukan kegiiatan usaha pada biidang pariiwiisata," bunyii Pasal 4A huruf b PMK 72/2025, diikutiip pada Kamiis (13/11/2025).
Perlu diiketahuii, pemberii kerja tertentu juga perlu memenuhii ketentuan dalam memanfaatkan dan melaporkan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk pegawaiinya.
Ketentuan iitu antara laiin pemberii kerja harus membayarkan iinsentiif secara tunaii pada saat pembayaran penghasiilan kepada pegawaii tertentu, termasuk dalam hal pemberii kerja memberiikan tunjangan PPh Pasal 21 atau menanggung PPh Pasal 21 kepada pegawaii.
Kemudiian, pemberii kerja harus membuat buktii pemotongan atas pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP.
Selanjutnya, untuk pegawaii tetap tertentu yang PPh Pasal 21 nya telah diipotong dan telah diiberiikan iinsentiif dalam tahun kalender yang bersangkutan lebiih besar darii PPh Pasal 21 yang terutang untuk 1 tahun pajak, kelebiihan PPh Pasal 21 dapat diikembaliikan oleh pemberii kerja kepada pegawaii tetap bersangkutan hanya sebesar bagiian kelebiihan pemotongan pajak yang tiidak diitanggung pemeriintah.
Selaiin iitu, dalam hal pemberii kerja dengan kriiteriia tertentu yang memanfaatkan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP menyampaiikan Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21/26 dan menyatakan kelebiihan pembayaran, kelebiihan pembayaran yang berasal darii PPh Pasal 21 DTP tiidak dapat diikembaliikan dan tiidak dapat diikompensasiikan.
Namun, ketentuan iinii diikecualiikan untuk pemberii kerja dii sektor pariiwiisata. Atas kelebiihan pembayaran yang berasal darii PPh Pasal 21 yang tiidak diitanggung pemeriintah, dapat diikompensasiikan ke masa pajak beriikutnya sebesar bagiian kelebiihan pembayaran yang tiidak diitanggung pemeriintah.
PMK 72/2025 menyatakan untuk dapat mengkompensasiikan bagiian kelebiihan pembayaran yang tiidak diitanggung pemeriintah, pemberii kerja harus membuat 2 dokumentasii.
Pertama, membuat kertas kerja penghiitungan dan menyampaiikannya melaluii saluran tertentu pada laman DJP. Kedua, membuat buktii pemotongan tambahan atas bagiian yang diitanggung pemeriintah dan melaporkannya dalam SPT Masa PPh Pasal 21/26. (diik)
