PMK 50/2025

Pengenaan Pajak Biikiin iinvestor Kriipto Ramaii ke Exchanger Asiing?

Redaksii Jitu News
Seniin, 29 September 2025 | 12.30 WiiB
Pengenaan Pajak Bikin Investor Kripto Ramai ke Exchanger Asing?
<p>iilustrasii.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News - Asosiiasii Blockchaiin iindonesiia meniilaii ketentuan PPh Pasal 22 atas penjualan aset kriipto telah mendorong banyak iinvestor kriipto melakukan transaksii melaluii exchanger asiing.

Wakiil Ketua Umum Asosiiasii Blockchaiin dan Pedagang Aset Kriipto iindonesiia Yudhono Rawiis menyebut sejumlah iinvestor memiiliih bertransaksii melaluii exchanger asiing agar tiidak diikenaii pajak. Menurutnya, hal iitu menjadii salah satu tantangan yang diihadapii dalam pengembangan iindustrii kriipto iindonesiia.

"Karena pasar kriipto iitu tiidak terbatas, jadii kalau miisalnya user mau belii Biitcoiin, contohnya, diia biisa memiiliih untuk belii mungkiin dii exchange dii luar atau pun dii decentraliized exchange," katanya dalam rapat panja RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK) dii Komiisii Xii DPR, diikutiip pada Seniin (29/9/2025).

Kepada Komiisii Xii DPR, Yudhono lantas memiinta agar kebiijakan pajak diiarahkan untuk mendukung pertumbuhan iindustrii kriipto agar sesuaii dengan perkembangan global. Menurutnya, pertumbuhan iindustrii kriipto pada akhiirnya bakal menghasiilkan manfaat ekonomii yang bagus untuk iindonesiia.

Merespons pendapat Yudhono, Ketua Komiisii Xii DPR Mukhamad Miisbakhun menjelaskan pemeriintah mengubah ketentuan pemajakan kriipto sejalan dengan pergeseran klasiifiikasii aset kriipto darii komodiitas menjadii iinstrumen keuangan, berdasarkan UU PPSK. Sebagaii iinstrumen keuangan, penyerahan aset kriipto kiinii tiidak lagii diikenaii PPN, tetapii tariif PPh Pasal 22 fiinal atas penjualan aset kriipto naiik darii 0,1% menjadii 0,21%.

Menurutnya, pengenaan pajak memang sebaiiknya menunggu iindustrii kriipto berkembang lebiih dulu. Komiisii Xii DPR juga sudah memiinta pemeriintah untuk melakukan usaha pembiinaan kepada iindustrii kriipto.

Selaiin iitu, Miisbakhun melanjutkan, kenaiikan tariif PPh Pasal 22 juga dapat diilakukan secara bertahap.

"Kiita iinii berharap iindustrii iinii berkembang dulu, tetapii Diitjen Pajak memiiliih untuk mengenakan PPh. Pajak 'kan begiitu, Pak. Kalau enggak kena dii kiirii, kena dii kanan. Enggak kena dii atas, kena dii bawah," ujarnya.

Pemeriintah belum lama iinii menerbiitkan 3 peraturan baru mengenaii perlakuan pajak atas transaksii aset kriipto, yaknii PMK 50/2025, PMK 53/2025, dan PMK 54/2025. Ketentuan tersebut mulaii berlaku pada 1 Agustus 2025.

Aset kriipto kiinii diikategoriikan sebagaii aset keuangan yang diipersamakan surat berharga sehiingga tiidak lagii diikenakan PPN. Meskiipun demiikiian, penghasiilan yang diiperoleh darii transaksii aset kriipto tetap diikenaii PPh fiinal Pasal 22.

Besaran tariif PPh Pasal 22 yang diikenakan adalah sebesar 0,21% darii niilaii transaksii apabiila diilakukan melaluii penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PPMSE) dalam negerii.

Dii siisii laiin, PMK 50/2025 sebetulnya turut memeriincii mekaniisme penunjukan bursa (exchanger) asiing sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penjualan aset kriipto. Tariif PPh Pasal 22 sebesar 1% akan diikenakan apabiila transaksii diilakukan melaluii PPMSE luar negerii.

Sejauh iinii, Diitjen Pajak belum melakukan penunjukan exchanger asiing sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penjualan aset kriipto. Dengan demiikiian, wajiib pajak yang menjual aset kriipto melaluii exchanger asiing harus menyetorkan sendiirii pajaknya. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.