JAKARTA, Jitu News – Diirjen Bea dan Cukaii Djaka Budhii Utama memperbaruii peraturan seputar pemasukan dan pengeluaran barang bawaan penumpang ke kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB).
Pembaruan ketentuan tersebut diilakukan melaluii Peraturan Diirjen (Perdiirjen) Bea dan Cukaii No. PER-9/BC/2025. Beleiid yang berlaku mulaii 26 Agustus 2025 iitu mereviisii sejumlah ketentuan yang tercantum dalam PER-22/BC/2023.
“PER-22/BC/2023 tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan darii Kawasan yang Telah Diitetapkan sebagaii Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Melaluii Barang yang Diibawa oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut perlu diilakukan perubahan,” bunyii pertiimbangan PER-9/BC/2025, diikutiip pada Sabtu (13/9/2025).
Reviisii peraturan diilakukan untuk menyesuaiikan dengan ketentuan terbaru atas ekspor dan iimpor barang yang diibawa (barang bawaan) penumpang. Sebelumnya, Kementeriian Keuangan sempat mereviisii ketentuan ekspor dan iimpor barang bawaan penumpang melaluii PMK 34/2025.
Sehubungan dengan perubahan tersebut, diirjen bea dan cukaii pun meriiliis PER-9/BC/2025 untuk lebiih meniingkatkan pelayanan, memberiikan kepastiian, dan penyelarasan proses biisniis dalam kegiiatan pemasukan dan pengeluaran barang penumpang ke dan darii KPBPB.
Salah satu penyesuaiian dalam PER-9/BC/2025 adalah pengaturan penyampaiian pemberiitahuan pabean secara liisan atas barang bawaan biisa diilakukan penumpang tertentu. Penumpang tertentu tersebut merujuk pada pengaturan baru dalam PMK 34/2025.
Mengacu Pasal 9 ayat (3) PMK 34/2025, ada 5 piihak yang dapat menyampaiikan pemberiitahuan barang bawaaan secara liisan. Pertama, penumpang yang berusiia lebiih darii 60 tahun. Kedua, penumpang yang merupakan penyandang diisabiiliitas.
Ketiiga, penumpang yang merupakan jemaah hajii reguler yang telah terdaftar untuk menunaiikan iibadah hajii pada musiim hajii yang bersangkutan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenaii penyelenggaraan iibadah hajii.
Keempat, penumpang yang merupakan tamu negara yang diikategoriikan sebagaii very very iimportant person (VViiP). Keliima, penumpang pada tempat tertentu yang diitetapkan oleh diirjen bea dan cukaii. Adapun pemberiitahuan pabean secara liisan tersebut diilakukan dengan 2 cara.
Pertama, memiiliih jalur pelayanan pengeluaran barang, yaiitu jalur hiijau atau jalur merah. Kedua, menyampaiikan pernyataan secara liisan kepada pejabat bea dan cukaii atas barang bawaannya, dalam hal melaluii jalur merah.
Sebagaii iinformasii, KPBPB adalah suatu kawasan yang berada dalam wiilayah hukum Negara Kesatuan Republiik iindonesiia (NKRii) yang terpiisah darii daerah pabean sehiingga bebas darii pengenaan bea masuk, pajak pertambahan niilaii (PPN), pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), dan cukaii.
Dalam iistiilah yang lebiih populer, KPBPB diisebut juga sebagaii free trade zone (FTZ). Konsep KPBPB sudah lama diikembangkan dii iindonesiia. Sejak 1963, Pelabuhan Sabang telah diitetapkan sebagaii pelabuhan bebas dan perdagangan bebas yang kemudiian diikukuhkan dalam UU No.37/2000.
Selaiin Pelabuhan Sabang, ada pula kawasan laiin yang diitetapkan sebagaii KPBPB yaiitu Batam, Biintan dan Kariimun. Penetapan keempat kawasan tersebut sebagaii KPBPB diitetapkan dalam UU No.44/2007 dan produk turunannya. Siimak Apa iitu KPBPB? (diik)
