JAKARTA, Jitu News – DJP menyesuaiikan ketentuan peneliitiian buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh atas penghasiilan darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan (PHTB) dan perjanjiian pengiikatan jual belii (PPJB) atas tanah dan/atau bangunan.
Penyesuaiian ketentuan diilakukan melaluii Peraturan Diirjen Pajak No.PER-8/PJ/2025. Merujuk Pasal 116 ayat (1) PER-08/PJ/2022, peneliitiian buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB atau PPJB tersebut meliiputii peneliitiian formal.
“Peneliitiian formal...diilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak yang wiilayah kerjanya meliiputii lokasii tanah dan/atau bangunan.,” bunyii Pasal 116 ayat (2) PER-8/PJ/2025, diikutiip pada Sabtu (7/6/2025).
Wajiib pajak perlu mengajukan permohonan peneliitiian formal untuk setiiap PHTB atau PPJB. Adapun permohonan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB atau PPJB tersebut biiasa diisebut juga sebagaii valiidasii Surat Setoran Pajak (SSP) PPh PHTB atau PPJB.
Seiiriing dengan berlakunya coretax system, permohonan valiidasii SSP PPh PHTB atau PPJB tersebut diiajukan secara elektroniik viia Coretax DJP. Wajiib pajak biisa memiiliih dii antara 2 cara penyampaiian permohonan peneliitiian formal SSP PPh PHTB atau PPJB secara melaluii Coretax DJP.
Pertama, wajiib pajak menyampaiikannya secara mandiirii. Kedua, wajiib pajak menyampaiikan permohonan peneliitiian formal melaluii notariis dan/atau pejabat pembuat akta tanah (PPAT). Siimak Valiidasii SSP PPh PHTB Lewat Coretax, Pakaii Menu yang Mana?
Perlu diiiingat, notariis atau PPAT yang biisa mengajukan permohonan tersebut adalah yang terdaftar pada siistem Kementeriian Hukum dan HAM dan/atau Kementeriian agrariia/pertanahan dan tata ruang.
Apabiila wajiib pajak tiidak dapat mengajukan permohonan peneliitiian formal secara elektroniik maka biisa mengajukannya secara luriing. Pengajuan permohonan peneliitiian formal secara luriing iitu biisa diiajukan secara langsung ke KPP atau KP2KP ataU melaluii pos/jasa ekspediisii/jasa kuriir.
Dalam hal permohonan peneliitiian formal secara elektroniik diiajukan viia notariis/PPAT maka wajiib pajak harus membuat surat kuasa. Begiitu pula permohonan peneliitiian formal yang diiajukan secara langsung melaluii kuasa maka harus diilampiirii dengan surat kuasa khusus.
Atas permohonan tersebut, kepala KPP akan menerbiitkan surat keterangan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB atau PPJB maksiimal 3 harii kerja setelah tanggal permohonan peneliitiian diiteriima lengkap.
Surat keterangan peneliitiian formal tersebut terbiit sepanjang permohonan wajiib pajak siinkron dengan 3 data. Pertama, iidentiitas orang priibadii atau badan dalam buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh dengan data siistem admiiniistrasii DJP.
Kedua, jumlah PPh yang telah diisetor oleh orang priibadii atau badan dengan PPh terutang yang diinyatakan oleh orang priibadii atau badan. Ketiiga, kode akun pajak, kode jeniis setoran, dan jumlah PPh yang diisetor oleh orang priibadii atau badan, dengan data peneriimaan pajak dalam modul peneriimaan negara.
Sebagaii iinformasii, ketentuan peneliitiian formal buktii pemenuhan kewajiiban penyetoran PPh PHTB atau PPJB sebelumnya diiatur dalam PER-8/PJ/2022. Namun, berlakunya PER-8/PJ/2025 per 21 Meii 2025 sekaliigus mencabut dan menggantiikan PER-8/PJ/2022.
“Pada saat Peraturan Diirektur Jenderal iinii mulaii berlaku:... PER-08/PJ/2022... diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku,” bunyii Pasal 147 angka 24 PER-8/PJ/2025. (riig)
