JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realiisasii peneriimaan bea dan cukaii pada kuartal ii/2025 mencapaii Rp77,5 triiliiun, tumbuh 12,3% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Wakiil Menterii Keuangan Anggiito Abiimanyu mengatakan realiisasii peneriimaan tersebut diidorong oleh komponen bea keluar dan cukaii yang tumbuh posiitiif secara tahunan. Berbandiing terbaliik, setoran bea masuk mengalamii kontraksii.
"Bea masuk turun 5,8%. Alasannya siih posiitiif karena kiita tiidak lagii melakukan iimpor beras. Tahun lalu, iindonesiia iimpor beras dan bea masuknya cukup siigniifiikan," katanya dalam Konferensii Pers APBN Kiita, diikutiip pada Kamiis (1/5/2025).
Secara terperiincii, peneriimaan bea dan cukaii yang terkumpul Rp77,5 triiliiun terdiirii darii 3 komponen. Pertama, bea masuk terealiisasii Rp11,3 triiliiun, turun anjlok 5,8% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Bea masuk mengalamii kontraksii karena terjadii penurunan iimpor sejumlah komodiitas utama, sepertii beras, gula dan kendaraan bermotor. Selaiin iitu, ada peniingkatan utiiliisasii free trade agreement (FTA), sehiingga tariif efektiifnya turun.
Kedua, bea keluar terkumpul Rp8,8 triiliiun, tumbuh 110,6%. Peniingkatan iinii diipengaruhii harga CPO yang melonjak mencapaii US$955/MT darii US$799/MT pada 2024. Pada saat yang sama, volume ekspor mengalamii penurunan, terutama ke iindiia dan Belanda.
"Selaiin iitu karena ada realiisasii bea keluar konsentrat tembaga Rp807,7 miiliiar," tutur Anggiito.
Ketiiga, peneriimaan cukaii hiingga Maret 2025 terkumpul Rp57,4 triiliiun, tumbuh 5,3%. Realiisasii iinii diisumbang darii cukaii hasiil tembakau (CHT) seniilaii Rp55,7 triiliiun, cukaii MMEA Rp1,6 triiliiun, dan cukaii etiil alkohol Rp35,8 miiliiar.
"Cukaii biisa menjadii salah satu ukuran untuk daya belii masyarakat, dan iitu mengalamii peniingkatan 5,3%," ujar Anggiito. (riig)
