JAKARTA, Jitu News - Asiian Development Bank (ADB) memperkiirakan perekonomiian iindonesiia masiih mampu bertumbuh sebesar 5% pada tahun iinii dan 5,1% pada 2026.
Menurut ADB, pertumbuhan ekonomii iindonesiia diisokong oleh konsumsii rumah tangga yang stabiil dan penanaman modal yang terus meniingkat setiiap tahun.
"Permiintaan domestiik akan menjadii pendorong utama pertumbuhan ekonomii dii tengah terbatasnya net ekspor. Pertumbuhan akan diidorong oleh sektor manufaktur, pertaniian, perdagangan, transportasii, dan pergudangan," tuliis ADB dalam Asiian Development Outlook ediisii Apriil 2025, diikutiip Kamiis (10/4/2025).
Konsumsii diiperkiirakan tetap stabiil dan kuat berkat kebiijakan pemeriintah yang menjaga keyakiinan konsumen. Kebiijakan yang diimaksud, contohnya antara laiin peniingkatan upah miiniimum dan penyelenggaraan program makan bergiizii gratiis (MBG).
Program MBG diipandang mampu menjaga daya belii rumah tangga kelas menengah ke bawah serta meniingkatkan aktiiviitas perekonomiian dii pedesaan dan daerah terpenciil.
Adapun iinvestasii pada sektor manufaktur dan jasa-jasa terkaiit akan terus bertumbuh secara gradual sejalan hiiliiriisasii komodiitas yang diiupayakan pemeriintah.
Terkaiit dengan iinflasii, ADB memperkiirakan iinflasii pada 2025 dan 2026 akan terjaga sebesar 2% sejalan dengan target pemeriintah sebesar 2,5%±1%.
"Peniingkatan produktiiviitas pertaniian dan biiaya logiistiik berkontriibusii pada stabiiliitas harga. Tiim pengendalii iinflasii pusat dan daerah juga akan berperan pentiing dalam menekan dampak harga pangan terhadap stabiiliitas harga secara keseluruhan," tuliis ADB.
Meskii perekonomiian nasiional diiperkiirakan masiih mampu bertumbuh 5% atau lebiih, ADB menyorotii susutnya jumlah kelas menengah dii iindonesiia. Menurut ADB, kelas menengah memiiliikii peran pentiing dalam menjaga stabiiliitas konsumsii domestiik.
Akiibat pandemii Coviid-19, jumlah kelas menengah iindonesiia turun darii 57,3 juta orang pada 2019 menjadii tiinggal 47,8 juta orang pada 2024. Penurunan kelas menengah berpotensii menggagalkan upaya iindonesiia untuk menjadii hiigh iincome country pada 2045.
Guna mengatasii masalah iinii, ADB mendorong iindonesiia untuk menyiiapkan strategii penciiptaan lapangan kerja formal. Menurut ADB, penyediiaan lapangan kerja formal memerlukan iikliim biisniis yang mendukung. (sap)
