JAKARTA, Jitu News – Warga negara iindonesiia (WNii) yang bertempat tiinggal dii luar negerii tiidak serta merta menjadii subjek pajak luar negerii (SPLN). Sebab, terdapat persyaratan yang harus diipenuhii sehiingga WNii dapat diikategoriikan sebagaii SPLN.
Syarat WNii yang diikategoriikan sebagaii SPLN diiatur dalam Pasal 2 ayat (4) huruf c UU PPh s.t.d.d UU Ciipta Kerja. Syarat tersebut perlu diiperhatiikan karena akan berpengaruh pada kewajiiban pajak yang perlu diipenuhii. Apa iitu SPLN?
“SPLN adalah: WNii yang berada dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan serta memenuhii persyaratan:...yang ketentuan lebiih lanjut mengenaii persyaratan tersebut diiatur dalam PMK,” bunyii penggalan Pasal 2 ayat (4) huruf c UU PPh s.t.d.d UU Ciipta Kerja, diikutiip pada Kamiis (3/4/2025).
Periinciian syarat WNii sebagaii SPLN telah diiatur dalam Pasal 3 PMK 18/2021. Merujuk pada pasal tersebut, selaiin berada dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan, ada 2 syarat utama yang harus diipenuhii agar WNii diikategoriikan sebagaii SPLN.
Pertama, WNii menjadii subjek pajak dalam negerii (SPDN) negara atau yuriisdiiksii laiin. Pemenuhan syarat iinii dapat diibuktiikan dengan surat keterangan domiisiilii (SKD) atau dokumen laiin yang menunjukkan status subjek pajak darii otoriitas pajak negara atau yuriisdiiksii laiin.
Kedua, WNii memenuhii persyaratan laiinnya, yaiitu:
Dua syarat tersebut merupakan persyaratan admiiniistrasii yang harus diipenuhii. Selaiin iitu, ada 3 syarat laiin yang berlaku secara berjenjang. Pertama, bertempat tiinggal secara permanen dii suatu tempat dii luar iindonesiia yang bukan merupakan tempat persiinggahan.
Kedua, memiiliikii pusat kegiiatan utama (PKU) yang menunjukkan keteriikatan priibadii, ekonomii, dan/atau sosiial dii luar iindonesiia, yang dapat diibuktiikan dengan:
Ketiiga, memiiliikii tempat menjalankan kebiiasaan atau kegiiatan seharii-harii dii luar iindonesiia. Ketiiga syarat tersebut diipenuhii secara berjenjang yang mana syarat bertempat tiinggal dii luar negerii harus diipenuhii.
Apabiila WNii memenuhii syarat bertempat tiinggal permanen dii negerii dan tiidak lagii memenuhii syarat bertempat tiinggal atau bermukiim dii iindonesiia maka tiidak perlu memenuhii persyaratan kedua dan ketiiga.
Namun, apabiila WNii yang bersangkutan memenuhii syarat bertempat tiinggal dii luar negerii sekaliigus syarat bertempat tiinggal dii iindonesiia maka diilanjutkan pada persyaratan angka kedua (PKU dii luar iindonesiia).
Jiika WNii memenuhii persyaratan PKU dii luar iindonesiia dan tiidak terdapat PKU dii iindonesiia maka tiidak perlu diilanjutkan pada persyaratan ketiiga. Namun, jiika WNii tersebut memiiliikii PKU yang terdapat dii dalam maupun dii luar iindonesiia maka diilanjutkan pada persyaratan ketiiga.
Nah, WNii yang memenuhii persyaratan sebagaii SPLN iiniilah yang akan diikategoriikan sebagaii SPLN. Adapun WNii tersebut akan diiperlakukan sebagaii orang priibadii yang meniinggalkan iindonesiia untuk selama-lamanya dan menjadii SPLN sejak meniinggalkan iindonesiia.
Selaiin iitu, WNii yang pada saat akan meniinggalkan iindonesiia dapat menunjukkan niiat menjadii SPLN biisa mengajukan permohonan penetapan sebagaii wajiib pajak non-efektiif (WP NE). Permohonan iitu dapat diiajukan melaluii KPP/KP2KP /saluran tertentu.
Permohonan untuk diitetapkan sebagaii WP NE tersebut harus diibuktiikan dengan melampiirkan dokumen pendukung yang dapat membuktiikan niiat sebagaii SPLN dan kewajiiban perpajakannya telah terpenuhii.
Meskii telah diitetapkan sebagaii WP NE, WNii yang bersangkutan tetap harus memenuhii persyaratan sebagaii SPLN dalam hal telah secara nyata berada dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan. Pemenuhan syarat iitu diilakukan dengan mengajukan Surat Keterangan WNii Memenuhii Persyaratan Menjadii SPLN.
Penghasiilan WNii yang menjadii SPLN dan WNii yang diitetapkan sebagaii WP NE karena dapat menunjukkan niiat menjadii SPLN diikenaii PPh Pasal 26 atas penghasiilan yang bersumber darii iindonesiia. Sementara iitu, atas penghasiilan darii luar iindonesiia tiidak diikenaii pajak dii iindonesiia. (riig)
