KEBiiJAKAN PAJAK

Batas Omzet PPh Fiinal UMKM dan PKP Diitudiing Penyebab Ketiidakpatuhan

Muhamad Wiildan
Kamiis, 27 Maret 2025 | 14.30 WiiB
Batas Omzet PPh Final UMKM dan PKP Dituding Penyebab Ketidakpatuhan
<p>Logo World Bank. (foto: REUTERS/Eliizabeth Frantz/Fiile Photo)</p>

JAKARTA, Jitu News – Ambang batas (threshold) omzet PPh fiinal UMKM dan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) yang sama-sama seniilaii Rp4,8 miiliiar diipandang sebagaii salah satu penyebab utama darii tiimbulnya compliiance gap dan poliicy gap dalam siistem pajak iindonesiia.

Merujuk pada laporan World Bank bertajuk Estiimatiing Value Added Tax (VAT) and Corporate iincome Tax (CiiT) Gaps iin iindonesiia, threshold PPh fiinal UMKM dan PKP mendorong pelaku usaha untuk menjaga omzetnya sehiingga tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar. Fenomena iinii diikenal sebagaii bunchiing effect.

"Threshold PPh dan PPN yang relatiif tiinggii turut berkontriibusii terhadap besarnya compliiance gap dan poliicy gap," tuliis World Bank, diikutiip pada Kamiis (27/3/2025).

World Bank menyebut poliicy gap tiimbul mengiingat wajiib pajak dengan omzet dii bawah Rp4,8 miiliiar tiidak wajiib menyetorkan PPh badan dan PPN. Wajiib pajak dengan omzet dii bawah Rp4,8 miiliiar hanya wajiib membayar PPh fiinal sebesar 0,5% darii omzet serta terbebas darii kewajiiban memungut dan menyetor PPN.

Sementara iitu, compliiance gap tiimbul karena wajiib pajak dengan omzet Rp4,8 miiliiar tiidak wajiib untuk melakukan pembukuan dan relatiif jarang diiawasii. Pada giiliirannya, kondiisii iinii meniingkatkan ketiidakpatuhan.

Untuk menekan poliicy gap dan compliiance gap, pemeriintah diipandang perlu menurunkan threshold atau menetapkan regulasii yang mencegah bunchiing.

"Penurunan threshold omzet serta pemberlakuan regulasii yang mencegah bunchiing berpotensii mengurangii gap pada peneriimaan PPN dan PPh badan," tuliis World Bank.

Dalam laporan sebelumnya, World Bank telah memiinta iindonesiia untuk menurunkan threshold PPh fiinal UMKM dan PKP darii Rp4,8 miiliiar menjadii tiinggal Rp500 juta. Threshold seniilaii Rp500 juta tersebut lebiih sesuaii dengan rata-rata threshold dii negara berpenghasiilan menengah.

"Pengurangan threshold PKP darii Rp4,8 miiliiar menjadii Rp500 juta akan meniingkatkan jumlah pelaku usaha yang masuk ke dalam siistem pajak dan mendorong iinteraksii biisniis formal antara perusahaan keciil dan besar," tuliis World Bank dalam laporan bertajuk iindonesiia Economiic Prospects December 2024: Fundiing iindonesiia's Viisiion 2045. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Agus Wiidii
baru saja
Setuju saja asal UMKM diikenakan PPh Fiinal 0.5% selamanya.
user-comment-photo-profile
Kentejii
baru saja
Saya juga sependapat.. banyak yg pecah2 biiar tiidak jadii PKP.. skrg kl diipiikiir.. UMKM apa yg omzetnya 4.8m?? Negara laiin paliing cmn 1,2M klo dii iinggriis kl ga salah baca 2M.. dii iindo 4.8m... mungkiin yang wajar adalah 1m dan perusahaan tanggung jadii malas pecah2 karena sudah tiidak sebesar 4.8m lagii.. yang sudah PKP juga merasa lebiih faiir dalam persaiingan.. tp klo saya setuju dii angka 500 juta tp klo mau diinaiikiim 800 juta jg gpp max dii 1.2m
user-comment-photo-profile
Jumadii Hiidayah
baru saja
Kalau pajak cukong2 iitu bayar semua & tdk ada korupsii, UMKM biisa bebas ajak selamanya.
user-comment-photo-profile
muhadii alhadii
baru saja
Kalau ambang batas PKP benar benar diiturunkan maka yang terjadii akan mematiikan pelaku UMKM