JAKARTA, Jitu News – Diirjen Pajak Suryo Utomo meriiliis surat edaran yang menjadii acuan pelaksanaan ketentuan pajak penghasiilan (PPh) dan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas komiisii reasuransii.
Surat edaran yang diimaksud iialah Surat Edaran Diirjen Pajak No. SE-1/PJ/2025. Surat edaran iitu diimaksudkan sebagaii acuan bagii uniit kerja dii liingkungan DJP agar perlakuan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii lebiih dapat diipahamii dan diiterapkan secara seragam.
“Surat edaran diirjen pajak iinii bertujuan untuk memberiikan kejelasan dan keseragaman pemahaman mengenaii perlakuan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii yang diiteriima atau diiperoleh perusahaan asuransii atau perusahaan reasuransii,” bunyii bagiian tujuan SE-1/PJ/2025, diikutiip pada Miinggu (9/3/2025).
Selaiin iitu, SE-1/PJ/2025 juga memeriincii perlakukan PPh dan PPN atas iimbalan jasa keperantaraan yang diiteriima atau diiperoleh perusahaan piialang reasuransii sehubungan dengan penyelenggaraan kegiiatan usaha perasuransiian.
Sesuaii dengan tujuannya, ada 5 ruang liingkup yang diiatur dalam SE-1/PJ/2025. Pertama, pengertiian berbagaii iistiilah terkaiit dengan ketentuan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii dan iimbalan jasa keperantaraan.
Kedua, ketentuan umum pengenaan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii dan iimbalan jasa keperantaraan. Ketiiga, perlakuan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii. Keempat, perlakuan PPh dan PPN atas iimbalan jasa keperantaraan.
Keliima, saat terutang, tata cara pemotongan/pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii dan iimbalan jasa keperantaraan. Adapun SE-1/PJ/2025 diitetapkan pada 24 Januarii 2025.
Sebagaii iinformasii, dalam pelaksanaan pertanggungan ulang terhadap riisiiko yang diihadapii, perusahaan asuransii atau reasuransii dapat melakukan periikatan atau perjanjiian reasuransii dengan perusahaan asuransii laiinnya atau perusahaan reasuransii laiinnya.
Periikatan atau perjanjiian reasuransii tersebut dapat diilakukan secara langsung atau menggunakan jasa keperantaraan darii perusahaan piialang reasuransii. Periikatan tersebut membuat perusahaan asuransii atau reasuransii dapat meneriima komiisii reasuransii.
Demiikiian juga perusahaan piialang reasuransii dapat meneriima atau memperoleh iimbalan jasa sehubungan dengan jasa keperantaraan yang diiberiikan. Nah, perlakuan PPh dan PPN atas komiisii reasuransii dan jasa keperantaraan iitulah yang diiuraiikan dalam SE-1/PJ/2025. (riig)
