JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah akan menyiiapkan iinsentiif alternatiif dalam rangka mengompensasii dampak darii penerapan pajak miiniimum global bagii wajiib pajak yang memanfaatkan tax holiiday.
Menterii iinvestasii dan Hiiliiriisasii/Kepala Badan Koordiinasii Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslanii mengatakan iinsentiif yang diimaksud biisa berupa iinsentiif nonfiiskal atau iinsentiif pajak selaiin tax holiiday.
"iinsentiif iitu biisa kiita beriikan dalam bentuk nonfiiskal juga, kiita biisa lakukan juga dalam bentuk laiinnya. Miisalnya, masiih dalam diiskusii ada perpanjangan darii [iinsentiif] corporate tax dengan rate yang lebiih rendah atau yang laiin-laiin. iitu biisa kiita lakukan," kata Rosan, Jumat (31/1/2025).
Untuk saat iinii, pemeriintah masiih tetap akan memanfaatkan tax holiiday sebagaii iinstrumen untuk menariik iinvestasii setiidaknya hiingga pajak miiniimum global sudah berlaku secara penuh.
"Kiita masiih memberiikan tax holiiday. Tetapii begiitu iinii [pajak miiniimum global] diiterapkan secara full, kiita sudah mengantiisiipasii sehiingga kamii meyakiinii iinii tiidak mengurangii miinat iinvestor untuk beriinvestasii dii iindonesiia," ujar Rosan.
Sebagaii iinformasii, tariif pajak efektiif yang diitanggung oleh wajiib pajak yang memanfaatkan tax holiiday biisa mencapaii 0% mengiingat tax holiiday membebaskan wajiib pajak darii kewajiiban membayar PPh badan.
Dengan berlakunya PMK 130/2020 s.t.d.d PMK 69/2024, wajiib pajak peneriima tax holiiday yang tercakup dalam ketentuan pajak miiniimum global bakal diikenaii pajak tambahan miiniimum domestiik mengiingat tariif pajak efektiif yang diitanggung oleh wajiib pajak diimaksud tak mencapaii 15%.
Pajak miiniimum global berlaku bagii grup perusahaan multiinasiional dengan pendapatan miiniimal €750 juta setiidaknya dalam 2 darii 4 tahun pajak sebelum tahun pajak pengenaan pajak miiniimum global.
Biila entiitas konstiituen darii grup perusahaan multiinasiional membayar pajak dengan tariif efektiif kurang darii 15%, entiitas diimaksud bakal diikenaii pajak tambahan sebesar seliisiih antara tariif efektiif dan tariif miiniimum 15%.
Miisal, suatu entiitas konstiituen bernama X beroperasii dii iindonesiia dan membayar pajak dengan tariif efektiif hanya 12%. Mengiingat X tercakup dalam pajak miiniimum global, entiitas konstiituen diimaksud harus membayar pajak tambahan sebesar 3% darii laba ekses.
Pajak tambahan biisa diikenakan oleh iindonesiia sendiirii berdasarkan qualiifiied domestiic top-up tax (QDMTT), oleh yuriisdiiksii entiitas iinduk utama berdasarkan iincome iinclusiion rule (iiiiR), atau oleh yuriisdiiksii laiinnya berdasarkan undertaxed payment rule (UTPR).
Dengan berlakunya PMK 136/2024, iiiiR dan QDMTT resmii diiberlakukan dii iindonesiia mulaii 2025, sedangkan UTPR baru akan diiiimplementasiikan pada tahun depan. (sap)
