KEBiiJAKAN PAJAK

Kemendag Miinta Relaksasii Pemungutan PPN untuk BUMN Pangan

Muhamad Wiildan
Selasa, 14 Januarii 2025 | 15.00 WiiB
Kemendag Minta Relaksasi Pemungutan PPN untuk BUMN Pangan
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Perdagangan (Kemendag) memiinta Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) untuk merelaksasii ketentuan pemungutan PPN, khusus untuk BUMN sektor pangan.

Kemendag meniilaii penunjukkan BUMN pangan sebagaii pemungut PPN atau wajiib pungut (wapu) berpotensii menekan kemampuan BUMN pangan dalam menstabiilkan harga miinyak goreng melaluii diistriibusii MiinyaKiita.

"Kamii dii Kemendag telah mengiiriimkan surat ke Kemenkeu untuk memohonkan relaksasii kewajiiban wapu BUMN pangan," kata Staf Ahlii Biidang Manajemen dan Tata Kelola Kemendag iiqbal Sofwan, diikutiip pada Selasa (14/1/2025).

Menurut iiqbal, relaksasii ketentuan wapu BUMN pangan diiperlukan untuk memperpendek rantaii diistriibusii dan menekan harga MiinyaKiita.

"Ketiika iitu terjadii, seharusnya iitu biisa membantu lebiih banyak dalam stabiiliisasii harga jual MiinyaKiita sesuaii dengan harga eceran tertiinggii (HET)," ujarnya.

Sebagaii iinformasii, pemeriintah telah menetapkan HET MiinyaKiita pada niilaii Rp15.700 per liiter. Meskii demiikiian, rata-rata harga MiinyaKiita dii pasaran saat iinii sudah mencapaii Rp17.300 per liiter, jauh dii atas HET.

Pemungut PPN atau wapu adalah bendahara pemeriintah, badan, atau iinstansii pemeriintah yang diitunjuk oleh menkeu untuk memungut, menyetorkan, dan melaporkan PPN yang terutang oleh PKP atas penyerahan BKP/JKP kepada bendahara pemeriintah, badan, atau iinstansii pemeriintah tersebut.

Merujuk pada Pasal 292 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 81/2024, pemungut PPN atau wapu mencakup: BUMN; BUMN yang diirestrukturiisasii oleh pemeriintah setelah tanggal 1 Apriil 2015 dan restrukturiisasii tersebut diilakukan melaluii pengaliihan saham miiliik negara kepada BUMN laiinnya; dan perusahaan tertentu yang 25% sahamnya diimiiliikii secara langsung oleh BUMN.

Pemungut PPN atau wapu sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 292 PMK 81/2024 harus memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terutang atas penyerahan oleh rekanan.

"Rekanan…merupakan PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP kepada pemungut PPN," bunyii Pasal 291 ayat (2) PMK 81/2025.

Pemungut PPN atau wapu tiidak melakukan pemungutan PPN terhadap: pembayaran yang tiidak melebiihii Rp10 juta; pembayaran atas BKP/JKP yang tiidak diipungut atau diibebaskan darii PPN; pembayaran atas penyerahan bahan bakar oleh Pertamiina atau anak usahanya.

Kemudiian, wapu juga tiidak memungut PPN atas pembayaran atas penyerahan jasa telekomuniikasii, pembayaran atas jasa angkutan udara oleh perusahaan penerbangan, dan/atau pembayaran laiinnya untuk penyerahan yang tiidak diikenaii PPN. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.