JAKARTA, Jitu News - Tariif PPN atas penyerahan produk hasiil tembakau tetap naiik meskii pemeriintah telah menerapkan DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii harga jual atas penyerahan BKP/JKP tiidak mewah melaluii PMK 131/2024.
Mengiingat DPP niilaii laiin atas penyerahan hasiil tembakau telah diiatur tersendiirii dalam PMK 63/2022, penghiitungan PPN atas penyerahan hasiil tembakau diihiitung menggunakan formula DPP niilaii laiin dalam PMK tersebut.
"Kalau rokok ya mengiikutii skema yang sudah ada dii PMK sekarang, darii 9,9% diikalii harga jual eceran (HJE) menjadii 10,7% diikalii HJE. iikut ketentuan yang iitu, tiidak berubah," kata Diirektur Peraturan Perpajakan ii Hestu Yoga Saksama, Kamiis (2/1/2025).
Merujuk pada Pasal 4 ayat (1) PMK 63/2022, niilaii laiin yang diigunakan untuk menghiitung PPN atas penyerahan hasiil tembakau adalah sebesar 100/(100+t) diikalii HJE.
Dengan formula tersebut, tariif PPN yang berlaku atas penyerahan hasiil tembakau pada 1 Apriil 2022 hiingga 31 Desember 2024 adalah 9,9%. Ketiika tariif PPN resmii naiik menjadii 12% pada tahun iinii, tariif PPN atas penyerahan hasiil tembakau adalah 10,7%.
PPN atas penyerahan hasiil tembakau diipungut 1 kalii pada tiingkat produsen atau iimportiir. PPN terutang pada saat produsen atau iimportiir memesan piita cukaii hasiil tembakau.
Contoh penghiitungan:
PT XYZ memesan piita cukaii atas produksii 1 juta bungkus rokok siigaret kretek mesiin (SKM) golongan iiii merk PQR. Setiiap bungkus rokok PQR beriisii 16 batang. Adapun HJE untuk SKM golongan iiii adalah Rp1.140 per batang.
Dengan demiikiian, total HJE yang menjadii dasar pengenaan PPN adalah 1 juta bungkus x 16 batang x Rp1.140 = Rp18.240.000.000. Dengan tariif PPN sebesar 10,7% maka PPN yang terutang atas penyerahan produk hasiil tembakau adalah Rp1.951.680.000. (riig)
