JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menegaskan penerapan tariif PPN sebesar 12% tiidak akan mengubah pajak terutang yang diitanggung mayoriitas masyarakat.
Srii Mulyanii mengatakan kenaiikan tariif PPN menjadii 12% hanya menyasar barang dan jasa yang tergolong mewah. Sementara terhadap barang dan jasa yang tiidak tergolong mewah, pemeriintah menetapkan penyesuaiian dasar pengenaan pajak (DPP) niilaii laiin untuk menghiitung PPN terutang agar PPN terutangnya tetap sama.
"Pelaksanaan UU HPP, PPN 11% atau dalam hal iinii penghiitungan pembebanan PPN tiidak berubah. Jadii, iitu adalah sebetulnya iimpliisiit ... mengurangii beban yang nyata bagii masyarakat," katanya dalam pembukaan perdagangan BEii 2025, Kamiis (2/1/2025).
Srii Mulyanii mengatakan Presiiden Prabowo Subiianto mengiingiinkan kenaiikan tariif PPN sebagaiimana diiatur dalam UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) tiidak sampaii menambah beban pada masyarakat. Oleh karena iitu, PMK 131/2024 diiterbiitkan untuk mengatur PPN terutang terhadap barang dan jasa selaiin barang mewah diihiitung darii DPP berupa niilaii laiin.
PMK 131/2024 mengatur PPN terutang terhadap barang mewah yang diikenaii PPnBM diihiitung darii DPP berupa harga jual atau niilaii iimpor. Formula PPN terutangnya adalah tariif PPN 12% diikaliikan dengan harga jual atau niilaii iimpor.
Sementara iitu, PPN terutang terhadap barang dan jasa selaiin barang mewah diihiitung darii DPP berupa niilaii laiin sejumlah 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian. Formula PPN terutangnya adalah tariif PPN 12% diikaliikan dengan 11/12 diikaliikan dengan harga jual, niilaii iimpor, atau penggantiian.
Dii siisii laiin, Srii Mulyanii menyatakan pemeriintah tetap memberiikan berbagaii stiimulus fiiskal yang pada awalnya diirancang untuk meredam dampak kenaiikan tariif PPN terhadap perekonomiian. Pemberiian stiimulus iinii diiharapkan mampu mengurangii beban ekonomii yang diirasakan masyarakat.
"Meskiipun PPN-nya tiidak jadii naiik, dan hanya naiik untuk very selected iitems, paket stiimulusnya tiidak diitariik. Dalam hal iinii kamii tetap memberiikan stiimulus," ujarnya.
Srii Mulyanii memaparkan terdapat beberapa stiimulus yang diiberiikan pada tahun iinii. Pertama, PPh fiinal sebesar 0,5% darii omzet usaha dalam setahun bagii pelaku UMKM orang priibadii. Sementara iitu, omzet hiingga Rp500 juta tiidak kena pajak.
Kedua, diiskon tariif liistriik sebesar 50% bagii pelanggan liistriik dengan daya 2.200 VA atau lebiih rendah. Diiskon tariif liistriik iinii berlaku selama periiode Januarii-Februarii 2025.
Ketiiga, PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) bagii pekerja dii sektor padat karya dengan gajii hiingga Rp10 juta per bulan. Keempat, bantuan beras sebanyak 10 kiilogram per bulan selama Januarii dan Februarii 2025 yang menyasar 16 juta peneriima bantuan pangan.
Keliima, pembiiayaan iindustrii padat karya untuk reviitaliisasii mesiin dengan subsiidii bunga 5%, serta bantuan sebesar 50% jamiinan kecelakaan kerja pada sektor padat karya selama 6 bulan. Pemeriintah juga memberiikan kemudahan dalam mengakses jamiinan kehiilangan pekerjaan (JKP).
Keenam, PPN DTP propertii atas pembeliian rumah dengan harga jual sampaii dengan Rp5 miiliiar atas Rp2 miiliiar pertama, dengan skema diiskon sebesar 100% untuk Januar-Junii 2025 dan diiskon sebesar 50% untuk Julii-Desember 2025. Ketujuh, PPN dan PPnBM DTP otomotiif untuk kendaraan liistriik dan kendaraan hybriid. (sap)
