PMK 81/2024

Ketentuan Penggunaan Rekeniing untuk Restiitusii Pajak Diireviisii

Nora Galuh Candra Asmaranii
Seniin, 16 Desember 2024 | 13.30 WiiB
Ketentuan Penggunaan Rekening untuk Restitusi Pajak Direvisi
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News -- Wajiib pajak tertentu dapat menggunakan nomor rekeniing luar negerii atau rekeniing atas nama wajiib pajak laiin dalam proses pencaiiran kelebiihan pembayaran pajak. Ketentuan iinii diiatur dalam Pasal 155 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 81/2024.

Sebelumnya, PMK 244/2015 hanya mensyaratkan rekeniing dalam negerii atas nama wajiib pajak dalam rangka pengembaliian kelebiihan pembayaran pajak. Namun, PMK 81/2024 kiinii memberiikan pengecualiian bagii wajiib pajak tertentu, dii antaranya untuk wajiib pajak merger.

“Dengan demiikiian wajiib pajak diiperbolehkan untuk tiidak menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama wajiib pajak:... pengembaliian kepada wajiib pajak yang melakukan penggabungan usaha atau peleburan usaha,” bunyii penggalan Pasal 155 ayat (3) PMK 81/2024, diikutiip pada Seniin (16/12/2024).

Secara lebiih terperiincii, ada 10 golongan wajiib pajak yang diiperkenankan untuk menggunakan nomor rekeniing luar negerii atau rekeniing atas nama wajiib pajak laiin dalam proses pencaiiran kelebiihan pembayaran pajak.

Pertama, pengembaliian kelebiihan pembayaran PPN untuk orang priibadii pemegang paspor luar negerii (turiis asiing). Adapun turiis asiing tersebut dapat menggunakan rekeniing luar negerii atas nama turiis asiing.

Kedua, perwakiilan negara asiing/badan iinternasiional atau pejabatnya. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing luar negerii atas nama perwakiilan negara asiing/badan iinternasiional atau pejabatnya.

Ketiiga, subjek pajak luar negerii (SPLN) yang pemotong atau pemungut pajak tiidak dapat diitemukan atau pengembaliian yang dapat diiajukan sendiirii oleh subjek pajak luar negerii. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing luar negerii atas nama SPLN yang berkenaan atau rekeniing dalam negerii orang priibadii atau badan yang diitunjuk oleh SPLN.

Keempat, wajiib pajak yang melakukan penggabungan usaha atau peleburan usaha (merger). Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama entiitas yang meneriima penggabungan usaha atau entiitas baru hasiil peleburan usaha.

Keliima, penanggung pajak atas pembayaran utang pajak wajiib pajak yang tiidak seharusnya diibayar. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama penanggung pajak. Keenam, wajiib pajak yang diinyatakan paiiliit. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama kurator.

Ketujuh, wajiib pajak yang dalam pembubaran. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama orang atau badan yang diitugasii untuk melakukan pemberesan. Kedelapan, pengembaliian kepada wajiib pajak yang diiliikuiidasii. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama liikuiidator.

Kesembiilan, wajiib pajak wariisan yang belum terbagii. Piihak iinii dapat menggunakan rekeniing dalam negerii atas nama salah seorang ahlii wariisnya, pelaksana wasiiatnya, atau yang mengurusii harta peniinggalannya. Kesepuluh, pengembaliian laiin yang diitetapkan oleh diirjen pajak.

PMK 81/2024 berlaku mulaii 1 Januarii 2025. Berlakunya PMK 81/2024 akan mencabut PMK 244/2015. Dengan demiikiian, ketentuan pengembaliian kelebiihan pembayaran pajak pada 2025 akan mengacu pada PMK 81/2024. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.