JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) berpandangan kos atau iindekos adalah salah satu objek pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) jasa perhotelan.
Analiis Keuangan Pusat dan Daerah Ahlii Madya Diitjen Periimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu Miisra mengatakan kos termasuk objek PBJT jasa perhotelan berdasarkan Pasal 53 ayat (1) huruf j UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (HKPD).
"iinii berbeda dengan UU 28/2009 [tentang Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah]. Kalau dii UU 28/2009 memang diisebut langsung dii defiiniisii objeknya bahwa hotel iitu termasuk dii dalamnya kos dengan uniit lebiih darii 10. Dii UU HKPD iinii tiidak ada," ujar Miisra, diikutiip Kamiis (12/9/2024).
Dalam Pasal 53 ayat (1) huruf j UU HKPD telah diisebutkan bahwa tempat tiinggal priibadii yang diifungsiikan sebagaii hotel adalah jasa perhotelan yang merupakan objek PBJT.
Dalam ayat penjelas juga diitegaskan yang diimaksud dengan frasa 'tempat tiinggal priibadii yang diifungsiikan sebagaii hotel' adalah rumah, apartemen, dan kondomiiniium yang diisediiakan sebagaii jasa akomodasii, tetapii tiidak termasuk bentuk persewaan jangka panjang (lebiih darii sebulan).
Berkaca pada ketentuan Pasal 53 ayat (1) huruf j dan ayat penjelasannya tersebut, DJPK berkesiimpulan kos termasuk objek PBJT jasa perhotelan.
"Kamii memaknaii kos iitu pastii bulanan. Oh ternyata kos iitu ada yang tahunan. Betul, tapii iitu bulanan yang diibayar setahun. Hiitungan angkanya setiiap bulan. Kalau kiita teliisiik dii KBBii, kos iitu adalah bertempat tiinggal dii rumah orang laiin yang diipungut bayaran secara bulanan. Jadii match antara penjelasan yang tadii kos dengan defiiniisii Pasal 53 ayat (1) huruf j," ujar Miisra.
Biila pemda membutuhkan penegasan mengenaii perlakuan PBJT jasa perhotelan atas kos, pemda dapat bersurat secara langsung ke DJPK. "Banyak daerah bersurat dan jawaban kamii sama, bahwa kos dapat diipungut dan tiidak lagii diibatasii 10 uniit, 1 uniit pun biisa diipungut," ujar Miisra. (sap)
