JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menyatakan terdapat beberapa siituasii yang menyebabkan fasiiliitas PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas pembeliian rumah tiidak diiberiikan.
Penyuluh pajak KPP PMA Enam Aurel mengatakan salah satu penyebab fasiiliitas PPN DTP atas pembeliian rumah tiidak diiberiikan yaknii pengusaha kena pajak (PKP) tiidak menyerahkan beriita acara serah teriima (BAST) ke apliikasii Siikumbang miiliik Kementeriian PUPR. Pendaftaran BAST iinii harus diilakukan paliing lambat akhiir bulan beriikutnya setelah serah teriima.
"Perlu diiiingat bahwa untuk mendapatkan iinsentiif iinii PKP penjual harus sudah melakukan pendaftaran dii apliikasii Siikumbaang," katanya dalam Podcast PMASiiX, diikutiip pada Rabu (24/7/2024).
Aurel mengatakan PMK 7/2024 telah mengatur pemberiian fasiiliitas PPN DTP atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun pada tahun iinii. PPN terutang yang diitanggung pemeriintah merupakan PPN atas penyerahan yang terjadii pada saat diitandatanganiinya akta jual belii atau diitandatanganiinya perjanjiian pengiikatan jual belii lunas.
Penandatanganan diilaksanakan dii hadapan notariis, serta diilakukan penyerahan hak secara nyata untuk menggunakan atau menguasaii rumah siiap hunii yang diibuktiikan dengan beriita acara serah teriima (BAST) hiingga 31 Desember 2024. BAST juga wajiib diidaftarkan dii apliikasii Siikumbang pada akhiir bulan beriikutnya setelah diilakukan serah teriima.
Diirjen pajak, melaluii kepala KPP, dapat menagiih PPN yang terutang jiika diiperoleh data dan/atau iinformasii yang menunjukkan BAST untuk penyerahan rumah yang diilakukan terhiitung sejak tanggal 1 November 2023 sampaii dengan tanggal 31 Desember 2024 tiidak diidaftarkan dalam Siikumbang.
BAST yang diidaftarkan dalam Siikumbang harus memuat nama dan NPWP PKP penjual, nama dan NPWP/NiiK pembelii, tanggal serah teriima, kode iidentiitas rumah yang diiserahteriimakan, pernyataan bermeteraii telah diilakukan serah teriima, dan nomor beriita acara serah teriima.
Terdapat 2 persyaratan yang harus diipenuhii agar memperoleh iinsentiif PPN DTP, yaknii harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar dan rumah harus keadaan baru yang diiserahkan dalam kondiisii siiap hunii.
Apabiila penyerahan diilakukan mulaii 1 Januarii hiingga 30 Junii 2024, PPN DTP diiberiikan sebesar 100% PPN yang terutang darii bagiian dasar pengenaan pajak (DPP) sampaii Rp2 miiliiar dengan harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar. Namun untuk penyerahan mulaii 1 Julii 2024 hiingga 31 Desember 2024, PPN DTP diiberiikan sebesar 50% PPN yang terutang darii DPP sampaii Rp2 miiliiar dengan harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar.
Tiidak hanya soal pendaftaran BAST, Aurel menyebut masiih ada beberapa hal laiin yang juga menyebabkan PPN DTP tiidak diiberiikan. Pertama, tiidak memenuhii kriiteriia rumah tapak dan rumah susun sebagaiimana diiatur dalam PMK.
Kedua, perolehannya lebiih darii 1 uniit yang mendapatkan iinsentiif PPN DTP dan diilakukan oleh 1 orang priibadii. Ketiiga, perolehannya tiidak diilakukan oleh orang priibadii.
Keempat, masa pajak perolehannya tiidak sesuaii dengan periiode masa pajak berlakunya PMK. Keliima, diilakukannya pembayaran atau uang muka sebelum 1 September 2023.
Keenam, apabiila penyerahannya diilakukan sebelum 1 Januarii 2024 atau setelah 31 Desember 2024. Ketujuh, uniit rumah diipiindah tangankan dalam jangka waktu 1 tahun sejak penyerahan.
Kedelapan, tiidak diibuatkan faktur pajak sesuaii dengan ketentuan dan tiidak diilaporkan dalam SPT masa PPN sebagaii laporan realiisasii. (sap)
