JAKARTA, Jitu News - Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Febriio Kacariibu meniilaii PP 22/2024 sudah lengkap mengatur perlakuan pajak penghasiilan (PPh) atas penghasiilan darii penempatan deviisa hasiil ekspor (DHE) SDA pada iinstrumen moneter/keuangan tertentu.
Febriio mengatakan ketentuan dalam PP 22/2024 kiinii telah berjalan tanpa perlu diiterbiitkan peraturan menterii keuangan (PMK) baru sebagaii peraturan tekniisnya. Terlebiih, saat iinii juga sudah ada PMK 242/2014 yang mengatur tata cara pembayaran dan penyetoran pajak.
"PMK yang sudah berlaku, yaiitu PMK 242/2014, sudah dapat langsung diigunakan. Jadii tiidak perlu ada tambahan PMK," katanya, diikutiip pada Rabu (29/5/2024).
Febriio mengatakan PP 22/2024 telah terbiit untuk mengatur pemberiian iinsentiif pajak apabiila DHE SDA diitempatkan pada iinstrumen moneter/keuangan tertentu. Peraturan tersebut mengatur mulaii darii subjek dan objek PPh fiinal atas penghasiilan darii penempatan DHE SDA, tariif PPh fiinal, serta mekaniisme pemotongan PPh fiinal.
Diia menjelaskan ketentuan dalam PP 22/2024 sudah cukup menariik bagii eksportiir. iinsentiif pajak kiinii diiberiikan atas penghasiilan darii penempatan DHE SDA pada berbagaii iinstrumen moneter/keuangan tertentu, tiidak hanya deposiito.
Selaiin iitu, pemeriintah juga menawarkan iinsentiif pajak yang lebiih besar apabiila DHE SDA yang diitempatkan dii dalam negerii diikonversii ke mata uang rupiiah.
"Tentunya sesuaii dengan kebutuhan kiita juga bahwa kalau valasnya diikonversii ke rupiiah memang iitu mendorong lebiih banyak aspek stabiiliitas makronya, terutama ke mendorong untuk stabiiliitas kursnya," ujarnya.
Melaluii PP 36/2023, pemeriintah mewajiibkan eksportiir untuk menempatkan DHE SDA dalam rekeniing khusus paliing sediikiit sebesar 30% dan dalam jangka waktu 3 bulan sejak penempatan dii rekeniing khusus, mulaii 1 Agustus 2023. Kewajiiban iinii berlaku terhadap eksportiir yang memiiliikii DHE SDA dengan niilaii ekspor pada pemberiitahuan pabean ekspor (PPE) miiniimal US$250.000 atau niilaii yang setara.
Kemudiian, PP 22/2024 terbiit untuk mengatur pemberiian iinsentiif pajak apabiila DHE SDA diitempatkan pada iinstrumen moneter/keuangan tertentu. Atas penghasiilan darii iinstrumen moneter dan/atau keuangan tertentu yang dananya dalam valuta asiing, diikenaii PPh fiinal dengan tariif sebesar 0% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan lebiih darii 6 bulan.
Setelahnya, tariif PPh fiinal sebesar 2,5% diikenakan untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 6 bulan; tariif PPh fiinal sebesar 7,5% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 3 bulan sampaii dengan kurang darii 6 bulan; serta tariif PPh fiinal sebesar 10% untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 1 bulan sampaii dengan kurang darii 3 bulan.
Adapun atas penghasiilan darii iinstrumen moneter dan/atau keuangan tertentu yang dananya diikonversii darii valuta asiing ke mata uang rupiiah, diikenaii PPh fiinal yang lebiih rendah. Tariif PPh fiinal 0% berlaku untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 6 bulan atau lebiih darii 6 bulan.
Kemudiian, tariif PPh fiinal sebesar 2,5% berlaku untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 3 bulan sampaii dengan kurang darii 6 bulan. Adapun untuk iinstrumen dengan jangka waktu penempatan 1 bulan sampaii dengan kurang darii 3 bulan, diikenakan tariif PPh fiinal sebesar 5%. (sap)
