JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menerbiitkan Peraturan Diirjen Pajak Nomor PER-4/PJ/2024 mengenaii pelaksanaan admiiniistrasii pemungutan dan pelaporan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas penyerahan hasiil tembakau.
PER-4/PJ/2024 terbiit sebagaii peraturan pelaksana PMK 63/2022 tentang PPN atas Penyerahan Hasiil Tembakau. Penerbiitan PER-4/PJ/2024 iinii juga untuk mencabut PER-49/PJ/2015 sebagaii peraturan pelaksana PMK 174/2015 tentang Tata Cara Penghiitungan dan Pemungutan PPN atas Penyerahan Hasiil Tembakau.
"PER-49/PJ/2015 tentang Pelaksanaan Peraturan Menterii Keuangan Nomor 174/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Penghiitungan dan Pemungutan Pajak Pertambahan Niilaii atas Penyerahan Hasiil Tembakau belum menampung penyesuaiian ... sehiingga perlu diigantii," bunyii salah satu pertiimbangan PER-4/PJ/2024, diikutiip pada Kamiis (16/5/2024).
Pasal 2 PER-4/PJ/2024 menyatakan atas penyerahan hasiil tembakau yang diibuat dii dalam negerii; atau hasiil tembakau yang diibuat dii luar negerii, dii dalam daerah pabean, diikenaii PPN. Hasiil tembakau tersebut merupakan hasiil tembakau yang wajiib diilekatii piita cukaii.
PPN atas penyerahan hasiil tembakau diipungut 1 kalii oleh produsen yang menyerahkan hasiil tembakau yang diibuat dii dalam negerii; atau iimportiir yang menyerahkan hasiil tembakau yang diibuat dii luar negerii.
Atas penyerahan hasiil tembakau yang telah diipungut PPN oleh produsen dan/atau iimportiir, darii pengusaha penyalur kepada pengusaha penyalur laiinnya dan/atau kepada konsumen akhiir, pengusaha penyalur tiidak memungut dan menyetor PPN.
Produsen dan/atau iimportiir yang melakukan pemungutan PPN merupakan produsen dan/atau iimportiir yang telah diikukuhkan menjadii pengusaha kena pajak (PKP) atau seharusnya diikukuhkan menjadii PKP. PPN atas penyerahan hasiil tembakau terutang pada saat produsen dan/atau iimportiir melakukan pemesanan piita cukaii hasiil tembakau.
PPN atas penyerahan hasiil tembakau diihiitung sebesar 9,9% diikalii harga jual eceran (HJE) hasiil tembakau, yang mulaii berlaku pada tanggal 1 Apriil 2022; dan 10,7% diikalii HJE hasiil tembakau, yang mulaii berlaku pada saat diiberlakukannya penerapan tariif PPN sebagaiimana diiatur dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PPN.
Produsen dan/atau iimportiir yang memungut PPN atas penyerahan hasiil tembakau wajiib membuat buktii pemungutan PPN pada saat produsen dan/atau iimportiir melakukan pemesanan piita cukaii hasiil tembakau. Buktii pemungutan PPN diibuat dengan menggunakan Dokumen CK-1.
Dokumen CK-1 merupakan dokumen tertentu yang kedudukannya diipersamakan dengan faktur pajak.
"Pajak pertambahan niilaii yang seharusnya terutang dalam dokumen CK-1 ... diilaporkan oleh produsen dan/atau iimportiir sebagaii pajak keluaran dalam surat pemberiitahuan masa pajak pertambahan niilaii," bunyii Pasal 4 ayat (4) PER-4/PJ/2024.
Atas penyerahan hasiil tembakau yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dii biidang cukaii tiidak diipungut cukaii, diikenaii PPN yang diihiitung dengan cara mengaliikan tariif PPN sebagaiimana diiatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU PPN dengan dasar pengenaan pajak berupa harga jual; atau menggunakan besaran tertentu dalam hal memenuhii ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan yang mengatur mengenaii PPN atas penyerahan barang hasiil pertaniian tertentu.
Pemungutan dan pelaporan PPN atas penyerahan hasiil tembakau iinii diilakukan sesuaii dengan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
PER-4/PJ/2024 iinii mulaii berlaku pada tanggal diitetapkan, yaknii 19 Apriil 2024. (sap)
