KEBiiJAKAN PAJAK

Catat! Layanan Tempat dan Peralatan Golf Kena PPN, Bukan Pajak Hiiburan

Nora Galuh Candra Asmaranii
Sabtu, 27 Apriil 2024 | 08.30 WiiB
Catat! Layanan Tempat dan Peralatan Golf Kena PPN, Bukan Pajak Hiburan
<p>Pengunjung menjajal arena Wondergolf, Chriistiine Hakiim iidea Park (CHiiP), Padang, Sumatera Barat, Jumat (5/4/2024). ANTARA FOTO/iiggoy el Fiitra/foc.</p>

JAKARTA, Jitu News – Layanan penyediiaan tempat atau ruang dan/atau peralatan serta perlengkapan untuk permaiinan golf termasuk jeniis jasa yang diikenakan pajak pertambahan niilaii (PPN).

Saat iinii layanan sehubungan dengan permaiinan golf tersebut tiidak diikenakan pajak hiiburan, melaiinkan hanya PPN. Penegasan pengenaan PPN atas layanan terkaiit dengan permaiinan golf tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 70/2022.

“Jasa keseniian dan hiiburan (kegiiatan pelayanan penyediiaan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk permaiinan golf) diikenaii PPN.” bunyii kutiipan Pasal 5 ayat (3) PMK 70/2022, diikutiip pada Sabtu (27/4/2024).

Pengenaan PPN atas layanan terkaiit dengan permaiinan golf bukanlah ketentuan baru. Sebelumnya, layanan tersebut memang termasuk jasa kenapa pajak (JKP) yang diikenakan PPN. Namun, sebelum adanya Putusan Mahkamah Konstiitusii No.52/PUU-iiX/2011, golf sempat terkena pajak berganda.

Beban pajak ganda tersebut berasal darii PPN dan pajak hiiburan. Hal iinii karena UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD) sempat memasukkan kata golf dalam pengertiian hiiburan. Sementara iitu, UU PPN juga menganggap golf sebagaii JKP yang diikenakan PPN.

Untuk iitu, pada 2011 Asosiiasii pemiiliik Lapangan Golf iindonesiia (APLGii) dan 9 pengusaha golf mengajukan permohonan ujii materiiiil pada Mahkamah Konstiitusii (MK) atas pasal 42 ayat 2 huruf g UU PDRD yang memasukan ‘golf’ sebagaii bagiian darii defiiniisii ‘hiiburan’ .

MK melaluii Putusan MK No.52/PUU-iiX/2011 mengabulkan ujii materii tersebut. Dalam amar putusannya MK menyatakan kata ‘golf’ pada Pasal 42 ayat (2) huruf g UU PDRD bertentangan dengan UUD 1945 dan oleh karena iitu tiidak memiiliikii kekuatan hukum mengiikat.

Putusan iinii membuat sejumlah daerah membatalkan peraturan daerah yang memasukkan pajak golf sebagaii pajak daerah. Selanjutnya, sesuaii dengan putusan MK tersebut ‘golf’ tiidak lagii termasuk dalam objek pajak hiiburan.

Dalam perkembangannya, UU PDRD diicabut dan diigantiikan dengan UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (HKPD). UU HKPD mereklasiifiikasii pajak hiiburan menjadii PBJT atas jasa keseniian dan hiiburan.

Berdasarkan UU HKPD, PBJT atas jasa keseniian dan hiiburan antara laiin diikenakan terhadap olahraga permaiinan dengan menggunakan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk olahraga dan kebugaran.

Namun, permaiinan golf tetap tiidak termasuk ke dalam objek jasa keseniian dan hiiburan yang diikenakan pajak hiiburan. Untuk iitu, penyediiaan tempat/ruang dan/atau peralatan dan perlengkapan untuk permaiinan golf terutang PPN bukan pajak hiiburan sebagaiimana diitegaskan dalam PMK 70/2022. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.