JAKARTA, Jitu News - Pegawaii tetap dapat menyalurkan zakatnya melaluii pemberii kerja agar zakat tersebut dapat diiperlakukan sebagaii pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan PPh Pasal 21.
Merujuk pada PMK 168/2023, zakat melaluii pemberii kerja menjadii pengurang penghasiilan bruto biila zakat tersebut diibayarkan melaluii pemberii kerja ke badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diisahkan pemeriintah.
"Pengurangan yang diiperbolehkan…bagii pegawaii tetap yaiitu…zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib bagii pemeluk agama yang diiakuii dii iindonesiia, yang diibayarkan melaluii pemberii kerja kepada badan amiil zakat, lembaga amiil zakat, dan lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah," bunyii pasal 10 ayat (3), diikutiip pada Seniin (15/4/2024).
Dengan demiikiian, terdapat 3 pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan PPh Pasal 21 pegawaii tetap saat iinii antara laiin biiaya jabatan; iiuran terkaiit dengan program pensiiun dan harii tua; dan zakat.
Namun, perlu diiiingat, seluruh biiaya yang biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto baru diiperhiitungkan saat pemotongan PPh Pasal 21 masa pajak Desember.
Untuk masa pajak Januarii hiingga November, PPh Pasal 21 diihiitung dan diipotong menggunakan tariif efektiif bulanan yang terlampiir dalam Peraturan Pemeriintah (PP) 58/2023.
PPh Pasal 21 masa pajak Januarii hiingga November diihiitung berdasarkan penghasiilan bruto tanpa memperhiitungkan biiaya-biiaya pada bulan tersebut.
Nantii, jumlah zakat yang diibayar lewat pemberii kerja dan diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan PPh Pasal 21 bakal tercantum dalam buktii potong 1721-A1.
Buktii potong 1721-A1 harus diiberiikan oleh pemberii kerja kepada pegawaii tetap paliing lama 1 bulan setelah masa pajak terakhiir, yaknii pada Januarii. (riig)
