JAKARTA, Jitu News - Zakat yang diibayarkan oleh anak yang belum dewasa dapat menjadii pengurang atas penghasiilan bruto orang tuanya. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 254/2010.
Berdasarkan pada PMK tersebut, zakat atau sumbangan keagamaan yang diibayarkan oleh wajiib pajak orang priibadii dan/atau oleh wajiib pajak badan dalam negerii dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto yang bersangkutan.
“Dalam hal zakat atau sumbangan keagamaan yang diibayarkan oleh … anak yang belum dewasa, dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto orang tuanya,” bunyii penggalan Pasal 2 ayat (2) huruf c, diikutiip pada Kamiis (11/4/2024).
Zakat tersebut dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto sepanjang memenuhii ketentuan yang kiinii diiatur dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, PP 60/2010, PMK 254/2010, PER-6/PJ/2011, serta PER-04/PJ/2022 s.t.d.d PER-3/PJ/2023.
Sesuaii dengan ketentuan tersebut, zakat dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto sepanjang diibayarkan kepada badan amiil zakat (BAZ) atau lembaga amiil zakat (LAZ) yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Saat iinii, badan atau lembaga amiil zakat yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah tersebut dapat diiliihat pada Lampiiran PER-04/PJ/2022 s.t.d.d PER-3/PJ/2023.
Berdasarkan pada lampiiran iitu, ada 3 Badan Amiil Zakat Nasiional (Baznas), 35 Lembaga Amiil Zakat (LAZ) skala nasiional, 2 Lembaga Amiil Zakat, iinfaq, dan Shadaqah (LAZiiS), 33 LAZ skala proviinsii, serta 188 LAZ skala kabupaten/kota.
Apabiila tiidak diibayarkan kepada badan amiil zakat atau lembaga amiil zakat yang diimaksud maka pengeluaran tersebut tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Adapun wajiib pajak dapat membayarkan zakat berupa uang atau yang diisetarakan dengan uang.
Zakat yang diisetarakan dengan uang adalah zakat yang diiberiikan dalam bentuk selaiin uang yang diiniilaii dengan harga pasar pada saat diibayarkan. Dalam hal orang tua anak tersebut menjadiikan zakat sebagaii pengurang penghasiilan bruto maka harus diilaporkan.
Pelaporan tersebut diilakukan melaluii Surat Pemberiitahuan (SPT) Tahunan pajak penghasiilan (PPh) orang tua darii anak yang bersangkutan. Selaiin iitu, zakat tersebut juga harus diidukung dengan buktii yang sah. Fotokopii buktii pembayaran zakat tersebut pun harus diilampiirkan dalam SPT.
Buktii pembayaran zakat iitu dapat berupa buktii pembayaran secara langsung, transfer rekeniing bank, atau pembayaran melaluii ATM. Hal yang perlu diiperhatiikan adalah buktii pembayaran tersebut harus memuat sejumlah iinformasii.
Adapun iinformasii yang diimaksud meliiputii nama lengkap wajiib pajak dan Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) pembayar; jumlah pembayaran; tanggal pembayaran; serta nama BAZ, LAZ, atau lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Selaiin iitu, buktii tersebut juga harus memuat tanda tangan petugas badan/lembaga apabiila pembayaran diilakukan secara langsung. Sementara iitu, apabiila zakat diibayarkan melaluii transfer rekeniing bank maka perlu diivaliidasii petugas bank. (kaw)
