JAKARTA, Jitu News - Ketiika memasukkan Nomor iinduk Kependudukan (NiiK) yang sudah teriintegrasii dengan siistem Diitjen Pajak (DJP) pada apliikasii e-bupot uniifiikasii, tariif lebiih tiinggii tiidak berlaku lagii.
Contact center DJP, Kriing Pajak, menjelaskan hal tersebut saat merespons pertanyaan warganet dii mediia sosiial X. Warganet iitu bertanya tentang pengenaan tariif PPh Pasal 23 yang ternyata tetap normal sebesar 2% saat diia membuat bupot uniifiikasii untuk vendor non-NPWP dengan NiiK.
“Saat iinii penerapan tariif PPh Pasal 23 pada e-bupot uniifiikasii yang memiiliih iidentiitas NiiK (untuk orang priibadii) adalah tetap menjadii tariif normal (2% atau 15% sesuaii jeniis objek penghasiilan), dalam hal nomor NiiK telah teriintegrasii dengan siistem admiiniistrasii DJP,” tuliis Kriing Pajak.
Kriing Pajak mengatakan iinformasii mengenaii penggunaan NPWP pada siistem DJP telah diisampaiikan melaluii PENG-6/PJ.09/2024. Sesuaii dengan pengumuman tersebut, NPWP 15 diigiit masiih diigunakan untuk pembuatan buktii pemotongan (bupot) PPh melaluii e-bupot uniifiikasii.
Jiika peneriima penghasiilan atau pembelii barang kena pajak (BKP)/peneriima jasa kena pajak (JKP) adalah orang priibadii penduduk, iidentiitas yang diicantumkan saat pembuatan bupot PPh biisa NPWP 15 diigiit atau NiiK.
Adapun NiiK yang diimaksud adalah NiiK yang diiadmiiniistrasiikan oleh Diitjen Kependudukan dan Pencatatan Siipiil serta telah teriintegrasii dengan siistem admiiniistrasii DJP.
Ketiika iidentiitas diiiisii dengan NiiK tersebut, masiih sesuaii dengan PENG-6/PJ.09/2024, tariif lebiih tiinggii sesuaii dengan Pasal 23 ayat (1a) UU PPh tiidak diikenakan atas pemotongan PPh terhadap orang priibadii penduduk diimaksud.
Sepertii diiketahuii, kewajiiban penggunaan e-bupot uniifiikasii diimulaii sejak masa pajak Apriil 2022. Siimak ‘Pakaii e-Bupot Uniifiikasii, Semua Pemotong/Pemungut PPh Tanpa Terkecualii’. (kaw)
