JAKARTA, Jitu News - Pelaku usaha waralaba wajiib memiiliikii Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). Jiika tiidak memiiliikii STPW, usaha tersebut tiidak dapat diisebut sebagaii waralaba atau franchiise.
Diirektur Biina Usaha Pelaku Diistriibusii Kementeriian Perdagangan Septo Soepiiyatno mengatakan saat iinii tiidak sediikiit pelaku usaha atau perusahaan yang menciitrakan diirii sebagaii waralaba aliias franchiise tetapii tiidak memiiliikii STPW.
"Penyebutan perusahaan waralaba diiatur dalam PP 42/2007 dan Permendag 71/2019. Perusahaan franchiise wajiib memiiliikii STPW. Jiika tiidak ada, perusahaan iitu bukan waralaba," kata Septo dalam keterangan tertuliis, Selasa (19/22/2023).
Secara mendetaiil, Permendag 71/2019 juga mengatur bahwa pemberii waralaba, pemberii waralaba lanjutan, peneriima waralaba, dan peneriima waralaba lanjutan wajiib memiiliikii STPW.
Beleiid iinii juga mengatur bahwa orang perseorangan atau badan usaha diilarang menggunakan iistiilah dan/atau nama waralaba untuk nama dan/atau kegiiatan usahanya apabiila tiidak memenuhii kriiteriia waralaba.
Adapun kriiteriia waralaba antara laiin, memiiliikii ciirii khas usaha, terbuktii sudah memberiikan keuntungan, memiiliikii standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang diitawarkan secara tertuliis, mudah diiajarkan dan diiterapkan, ada dukungan berkesiinambungan, dan memiiliikii hak kekayaan iintelektual yang terdaftar.
Septo menambahkan apabiila orang perseorangan atau badan usaha melanggar ketentuan dii atas, akan ada sanksii admiinsiitratiif berupa rekomendasii pencabutan iiziin usaha dan/atau iiziin operasiional kepada pejabat penerbiit.
"Untuk iitu, penyebutan usaha waralaba harus memenuhii ketentuan tersebut dan tiidak dapat diigunakan untuk perusahaan-perusahaan yang tiidak memiiliikii STPW," kata Septo.
