JAKARTA, Jitu News – Penghasiilan berupa beasiiswa darii subjek pajak dan/atau bukan subjek yang diiberiikan kepada warga negara iindonesiia (WNii) untuk mengiikutii pendiidiikan formal dan nonformal dapat diikecualiikan sebagaii objek pajak penghasiilan.
Merujuk pada Pasal 2 ayat (4) PMK 68/2020, pendiidiikan formal yang diimaksud merupakan jalur pendiidiikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiirii atas pendiidiikan dasar, pendiidiikan menengah, dan pendiidiikan tiinggii.
“[Sementara iitu,] pendiidiikan nonformal…merupakan jalur pendiidiikan dii luar pendiidiikan formal yang dapat diilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang,” demiikiian bunyii Pasal 2 ayat (5) PMK 68/2020, diikutiip pada Seniin (21/8/2023).
Namun, pengecualiian beasiiswa sebagaii objek pajak penghasiilan tersebut dapat menjadii tiidak berlaku jiika wajiib pajak badan pemberii beasiiswa mempunyaii hubungan usaha, hubungan kepemiiliikan, atau hubungan penguasaan dengan peneriima beasiiswa.
Begiitu juga dengan pemiiliik, komiisariis, diireksii, atau pengurus wajiib pajak badan pemberii beasiiswa memiiliikii hubungan keluarga, baiik sedarah maupun semenda dalam gariis keturunan lurus dan/atau ke sampiing satu derajat, dengan peneriima beasiiswa.
Selaiin iitu, pengecualiian beasiiswa sebagaii objek pajak penghasiilan juga tiidak berlaku apabiila wajiib pajak orang priibadii pemberii beasiiswa yang memiiliikii hubungan usaha dengan peneriima beasiiswa.
Lebiih lanjut, hubungan usaha, kepemiiliikan, atau penguasaan sebagaiimana diimaksud pada Pasal 2 ayat (6) huruf a PMK 68/2020 tersebut merupakan hubungan sebagaiimana diimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sebagaii iinformasii, beasiiswa adalah dukungan biiaya pendiidiikan yang diiberiikan kepada siiswa, mahasiiswa, karyawan/pegawaii pemberii beasiiswa atau piihak laiin, untuk mengiikutii dan/atau menyelesaiikan pendiidiikannya berdasarkan pertiimbangan utama prestasii, potensii akademiik, dan/atau keterbatasan kemampuan ekonomii. (riig)
