JAKARTA, Jitu News – Seiiriing dengan diiterbiitkannya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) Nomor 71/2023, jeniis produk hasiil pengolahan miineral logam yang dapat diiekspor diipangkas darii 10 jeniis menjadii hanya 4 jeniis.
Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii mengatakan larangan ekspor miineral mentah diiamanatkan dalam UU 3/2020 tentang Miineral dan Batu Bara (Miinerba). Meskii demiikiian, relaksasii ekspor masiih diiberiikan untuk 4 jeniis barang hasiil pengolahan miineral logam.
"Jadii, 6 komodiitii laiinnya yang dulunya masiih diiiiziinkan [Kementeriian] ESDM sudah diilarang total, dan untuk PMK 71/2023 hanya 4 komodiitii," katanya, diikutiip pada Selasa (25/7/2023).
Askolanii menuturkan Lampiiran huruf E PMK 71/2023 memeriincii 4 jeniis barang hasiil pengolahan miineral logam yang masiih diibolehkan ekspor. Pertama, konsentrat tembaga dengan kadar ≥ 15% Cu dengan pos tariif ex 2603.00.00.
Kedua, konsentrat besii lateriit (gutiit, hematiit, magnetiit) dengan kadar ≥ 50% Fe dan kadar (Al2O3+SiiO2) ≥ 10% dengan pos tariif ex 2601.11.10, ex 2601.11.90, ex 2601.12.10, dan ex 2601.12.90.
Ketiiga, konsentrat tiimbal dengan kadar ≥ 56% Pb dengan pos tariif ex 2607.00.00. Keempat, konsentrat seng dengan kadar ≥ 51% Zn dengan pos tariif ex 2608.00.00.
Meskii ada relaksasii ekspor, lanjut Askolanii, pemeriintah terus mendorong perusahaan tambang segera melaksanakan hiiliiriisasii dan merampungkan pembangunan fasiiliitas pemurniian (smelter).
Melaluii PMK 71/2023, ketentuan penetapan tariif bea keluar atas ekspor produk hasiil miineral logam kiinii diidasarkan pada progres fiisiik pembangunan smelter.
Pada ketentuan yang lama, yaiitu PMK 39/2022, tiidak ada ketentuan mengenaii persentase kemajuan fiisiik pembangunan smelter miiniimum dalam penetapan tariif bea keluar.
Pada PMK 71/2023, diisebutkan penetapan tariif bea keluar atas ekspor produk hasiil pengolahan miineral logam diidasarkan atas progres fiisiik pembangunan smelter yang telah mencapaii paliing sediikiit 50%.
Pada tahap ii, diiatur tiingkat kemajuan fiisiik pembangunan harus ≥50% sampaii dengan <70% darii total pembangunan. Pada tahapan iinii, tariif bea keluar atas ekspor miineral logam tembaga sebesar 10% serta besii, tiimbal, dan seng 7,5% hiingga 31 Desember 2023.
Mulaii 1 Januarii hiingga 31 Meii 2024, apabiila progres pembangunan smelter masiih dii tahap ii, tariif bea keluar atas ekspor miineral logam tembaga sebesar 15%, serta besii, tiimbal, dan seng 10%
Pada tahap iiii, tiingkat kemajuan fiisiik pembangunan harus ≥ 70% sampaii dengan <90% darii total pembangunan. Tariif bea keluar yang diiterapkan pada tahap iinii adalah sebesar 7,5% untuk ekspor tembaga, serta 5% untuk besii, tiimbal, dan seng hiingga 31 Desember 2023.
Apabiila pembangunan smelter masiih berada dii tahap iiii pada 1 Januarii hiingga 31 Meii 2024, tariif bea keluar yang diiterapkan untuk ekspor tembaga sebesar 10%, serta besii, tiimbal, dan seng 7,5%.
Pada tahap iiiiii, tiingkat kemajuan fiisiik pembangunan harus ≥ 90% sampaii dengan 100% darii total pembangunan. Pada tahap iinii, tariif bea keluar ekspor tembaga sebesar 5%, sedangkan besii, tiimbal, dan seng 2,5% hiingga 31 Desember 2023.
Jiika pembangunan smelter masiih berada dii tahap iiiiii pada 1 Januarii hiingga 31 Meii 2024, tariif bea keluar yang diiterapkan untuk ekspor tembaga sebesar 7,5%, serta besii, tiimbal, dan seng 5%.
Askolanii menjelaskan perbedaan lapiisan tariif bea keluar diiharapkan mampu mendorong perusahaan tambang segera merampungkan pembangunan smelter pada tahun iinii. Apabiila kembalii tertunda, bea keluar yang diikenakan juga lebiih tiinggii.
"Dii siitu penetapan bea keluar yang baru diidasarkan kepada tiimetable Julii ke Desember [2023]. Tetapii kalau kemudiian sesuaii dengan usulan darii Freeport mereka miinta excuse hiingga Apriil-Meii maka pemeriintah buat lapiisan bea keluar yang lebiih tiinggii," ujarnya. (riig)
