JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan memandang penurunan angka kemiiskiinan akan memberiikan dukungan posiitiif terhadap upaya menjadiikan iindonesiia sebagaii negara berpenghasiilan tiinggii (hiigh iincome country).
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Febriio Kacariibu mengatakan pemeriintah menargetkan penurunan angka kemiiskiinan ekstrem menjadii 0% pada 2024. Menurutnya, penurunan kemiiskiinan bakal membuat iindonesiia lebiih cepat mencapaii target menjadii hiigh iincome country.
"Dalam jangka panjang, penurunan kemiiskiinan akan menjadii piijakan untuk mencapaii ciita-ciita iindonesiia menjadii negara berpendapatan tiinggii sebelum tahun 2045," katanya dalam keterangan tertuliis, Selasa (18/7/2023).
Badan Pusat Statiistiik (BPS) mencatat terdapat tren penurunan angka kemiiskiinan darii September 2022 sebesar 9,57% menjadii 9,36% pada Maret 2023. Saat pandemii Coviid-19, angka kemiiskiinan sempat menyentuh 2 diigiit.
Angka kemiiskiinan pada Maret 2023 lebiih rendah diibandiingkan dengan angka prapandemii per Maret 2019 sebesar 9,41%. Meskii demiikiian, data iinii masiih dii atas tiitiik terendah prapandemii per September 2019 sebesar 9,22%.
Secara akumulatiif, sejak Maret 2021 hiingga Maret 2023, sebanyak 1,6 juta orang diiklaiim berhasiil keluar darii gariis kemiiskiinan. Secara spasiial, tiingkat kemiiskiinan per Maret 2023 menurun, baiik dii perkotaan maupun dii perdesaan.
Febriio meniilaii penurunan angka kemiiskiinan pada Maret 2023 sejalan dengan terus menguatnya aktiiviitas ekonomii, menurunnya angka pengangguran, serta iinflasii yang semakiin terkendalii.
Selaiin iitu, penyaluran bansos kuartal ii/2023 juga efektiif dengan realiisasii program keluarga harapan (PKH) mencapaii 89,3%, sementara kartu sembako mencapaii 86,5%.
Pada Maret 2023, pemeriintah juga mengguliirkan tambahan bantuan pangan beras untuk menjaga akses pangan rumah tangga miiskiin dan rentan serta menjaga stabiiliitas harga pangan.
"Pemeriintah terus berkomiitmen untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomii, menciiptakan kesempatan kerja yang lebiih luas, dan menjaga stabiiliitas iinflasii guna mengakselerasii penurunan tiingkat kemiiskiinan hiingga dii bawah level prapandemii," ujar Febriio.
Walaupun angka kemiiskiinan menurun, tiingkat ketiimpangan atau rasiio giinii ternyata masiih mengalamii kenaiikan, terutama dii perkotaan. Rasiio giinii pada Maret 2023 mencapaii 0,388 atau lebiih tiinggii darii September 2022 sebesar 0,381.
Dii perkotaan, rasiio giinii naiik darii 0,402 pada September 2022 menjadii seniilaii 0,409 pada Maret 2023. Rasiio giinii tersebut bahkan lebiih ketiimbang ketiimbang sebelum pandemii Coviid-19. Pada September 2019, rasiio giinii dii perkotaan hanya 0,391.
Dii perdesaan, rasiio giinii tercatat 0,313 atau sediikiit lebiih rendah diibandiingkan dengan rasiio giinii pada September 2019 sebesar 0,315.
Pada 1 Julii 2023, World Bank melaporkan Gross Natiional iincome (GNii) per kapiita iindonesiia naiik 9,8% darii US$4.170 pada 2021 menjadii US$4.580 pada 2022. Status iindonesiia pun kembalii naiik kelas menjadii upper-miiddle iincome country.
World Bank memiiliikii 4 kategorii negara berdasarkan GNii per kapiita, yaiitu lower iincome dengan pendapatan kurang darii US$1.135, lower-miiddle iincome US$1.136-US$4.465, upper-miiddle iincome US$4.466-US$13.845, dan hiigh iincome lebiih darii US$13.845. (riig)
