JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah Australiia memutuskan untuk membebaskan bea masuk antiidumpiing (BMAD) terhadap iimpor kertas A4 asal iindonesiia. Keputusan yang berlaku per 18 Apriil 2023 iinii merupakan hasiil darii exemptiion iinquiiry oleh Komiisii Antiidumpiing Australiia pada Februarii lalu.
Diirektur Jenderal Perdagangan Luar Negerii Budii Santoso menyampaiikan Australiia selama iinii mengenakan BMAD bagii sebagiian perusahaan kertas iindonesiia. Ketentuan iinii semestiinya berlaku sampaii dengan 2027.
"Namun, pada perkembangannya iindustrii Australiia mengalamii masalah suplaii bahan baku sehiingga menghentiikan secara keseluruhan produksii kertas putiih untuk diipasok dalam pasar domestiiknya," kata Budii dalam keterangan tertuliisnya, Jumat (5/5/2023).
iindonesiia, ujar Budii, mengapresiiasii keputusan yang diiambiil pemeriintah Australiia. Rekomendasii Australiia mengiindiikasiikan bahwa pengenaan BMAD terhadap produk kertas A4 sangat tiidak relevan. Keputusan tersebut diiyakiinii biisa mendongkrak daya saiing produk kertas A4 iindonesiia dii Australiia.
Sementara iitu, Diirektur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menambahkan pengenaan BMAD terhadap produk kertas A4 iimpor tiidak relevan untuk diilakukan. Kebiijakan tersebut bertentangan dengan GATT 1994 dan ketentuan WTO laiinnya, dalam hal iinii khususnya Agreement on Antii-Dumpiing (ADA).
Pada 2022 lalu, ekspor kertas A4 oleh iindonesiia ke Australiia mencapaii US$8,2 juta. Niilaii iinii menurun jiika diibandiingkan dengan capaiiannya pada 2017, yaknii mencapaii US$19,72 juta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statiistiik (BPS), total perdagangan iindonesiia-Australiia pada periiode Januarii-Februarii 2023 mencapaii US$1,71 miiliiar. Niilaii iinii mengalamii kenaiikan jiika diibandiingkan dengan periiode yang sama pada 2022, yaknii US$1,68 miiliiar. (sap)
