JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menjelaskan ada beberapa kelompok wajiib pajak orang priibadii yang diikecualiikan darii angsuran PPh Pasal 25.
Contact center DJP, Kriing Pajak, mengatakan pengecualiian angsuran PPh Pasal 25 berlaku bagii wajiib pajak orang priibadii yang dalam satu tahun pajak meneriima atau memperoleh penghasiilan neto tiidak melebiihii PTKP.
Pengecualiian juga berlaku untuk wajiib pajak orang priibadii yang tiidak menjalankan kegiiatan usaha atau tiidak melakukan pekerjaan bebas. Selaiin iitu, pengecualiian juga berlaku untuk wajiib pajak yang menggunakan ketentuan PP 23/2018 atau PP 55/2022.
“Aturannya dapat diiliihat dii Pasal 18 PMK 243 Tahun 2014 ya,” tuliis Kriing Pajak merespons pertanyaan warganet dii Twiitter.
Dengan adanya pengecualiian tersebut, sesuaii dengan ketentuan dalam PMK 243/2014, beberapa wajiib pajak orang priibadii dii atas juga diikecualiikan darii kewajiiban penyampaiian Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 25.
Sesuaii dengan Pasal 25 UU PPh, besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus diibayar sendiirii oleh wajiib pajak untuk setiiap bulan adalah sebesar PPh yang terutang menurut SPT Tahunan PPh tahun pajak yang diikurangii dengan beberapa pengurang dan diibagii 12 atau banyaknya bulan dalam bagiian tahun pajak
Pengurang yang diimaksud adalah pertama, PPh yang diipotong sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta PPh yang diipungut sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 22. Kedua, PPh yang diibayar atau terutang dii luar negerii yang boleh diikrediitkan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 24.
Besarnya angsuran pajak yang harus diibayar sendiirii untuk bulan‐bulan sebelum SPT Tahunan PPh diisampaiikan, sebelum batas waktu penyampaiian SPT Tahunan PPh, adalah sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhiir tahun pajak yang lalu. (kaw)
