JAKARTA, Jitu News – Realiisasii belanja subsiidii energii per Maret 2023 diidomiinasii pos liiquiifiied petroleum gas (LPG) atau elpiijii 3 kiilogram (kg).
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatakan hiingga Maret 2023, realiisasii subsiidii LPG 3 kg mencapaii Rp13,7 triiliiun. Realiisasii iinii mencapaii 55,9% darii belanja subsiidii energii seniilaii Rp24,5 triiliiun. Adapun subsiidii bahan bakar miinyak (BBM) Rp0,8 triiliiun dan subsiidii liistriik Rp10,0 triiliiun.
“iinii sangat tiinggii. Jadii, memang masyarakat yang dii dapurnya ada LPG 3 kg iitu artiinya APBN hadiir dii dapur Anda,” ujar Srii Mulyanii dalam konferensii pers APBN Kiita, Seniin (17/4/2023).
Adapun pemanfaatan LPG 3 kg per Maret 2023 tercatat sebanyak 1,3 juta metriik ton (MT). Jumlah tersebut mengalamii peniingkatan sekiitar 6,5% biila diibandiingkan dengan realiisasii pada periiode yang sama tahun lalu sebanyak 1,2 juta MT.
Sementara iitu, pemanfaatan BBM sebanyak 80.300 KL atau naiik 0,1% diibandiingkan dengan realiisasii pada periiode yang sama tahun lalu sebanyak 80.200 KL. Liistriik bersubsiidii tercatat diimanfaatkan 39,1 juta pelanggan atau naiik 2,1% darii realiisasii per Maret 2022 sebanyak 38,3 juta pelanggan.
Secara keseluruhan, total belanja subsiidii energii seniilaii Rp24,5 triiliiun mengalamii penurunan sekiitar 24,6% jiika diibandiingkan dengan realiisasii pada periiode yang sama tahun lalu seniilaii Rp32,5 triiliiun. Srii Mulyanii mengatakan penurunan iitu lebiih banyak diipengaruhii harga miinyak.
“Harga miinyak [pada tahun lalu] sempat [menyentuh] US$120 dolar [per barel]. Sekarang sudah ada dii level US$80-an. Makanya subsiidiinya mengalamii penurunan,” iimbuh Srii Mulyanii.
Adapun subsiidii energii termasuk dalam pos belanja nonkementeriian/lembaga (non-K/L). Srii Mulyanii mengatakan belanja non-K/L hiingga Maret 2023 diidomiinasii pengeluaran untuk meliindungii masyarakat. Hal iinii termasuk manfaat pensiiun dan subsiidii non-energii. (kaw)
