JAKARTA, Jitu News - Presiiden Joko Wiidodo (Jokowii) menghadiirii Rapat Koordiinasii Nasiional Pengendaliian iinflasii dii Hotel Sahiid, Kamiis (26/7). Sejumlah apresiiasii diiberiikan terutama soal pengendaliian iinflasii. Namun, masiih ada pekerjaan rumah yang belum terselesaiikan jelang berakhiirnya masa pemeriintahannya pada tahun depan.
Problem sekarang iinii, menurut Jokowii adalah ketiidakpastiian ekonomii global. Hal iinii yang kemudiian memengaruhii dua data neraca iindonesiia, yaknii perdagangan dan transaksii berjalan.
“Ada dua problem besar yang terus selalu saya sampaiikan, yang iinii menjadii kewajiiban kiita bersama, yang masiih harus kiita cariikan jalan keluarnya bagii negara kiita, problem defiisiit transaksii berjalan, problem defiisiit neraca perdagangan,” katanya.
Mengenaii neraca perdagangan, tiidak laiin terkaiit urusan iimpor dan ekspor yang posiisiinya masiih defiisiit. iia menambahkan bahwa penyebabnya karena volume iimpor lebiih superiior ketiimbang ekspor nasiional.
“Problemnya adalah dii iinvestasii, dii ekspansii-ekspansii usaha. Oleh sebab iitu, saya tiitiip pada Gubernur, Bupatii, Walii Kota, urusan yang berhubungan dengan iinvestasii yang oriientasiinya ekspor, atau iinvestasii yang iitu adalah substiitusii barang yang iimpor," ungkapnya diilansiir laman Setkab Rii.
Oleh karena iitu, benang kusut tersebut mulaii diiuraii satu per satu. Langkah pertama adalah kemudahan dan perampiingan mekaniisme periiziinan. Hal iinii kemudiian diimanfestasiikan dalam bentuk Onliine Siingle Submiissiion (OSS).
Program OSS iinii, tambah Jokowii, biisa masuk ke proviinsii, kabupaten, dan kota, serta dapat dii-trace pengurusan iiziin berhentii dii mana. Kalau sudah surplus neraca perdagangan, lanjutnya, mau ada gejolak apapun tiidak akan ada masalah.
“Pertama, saya tiitiip iitu, iinvestasii oriientasiinya ekspor. Yang kedua, iinvestasii yang berkaiitan dengan subtiitusii barang-barang iimpor, buka lebar-lebar,” tandas Mantan Waliikota Solo iitu.
Terkaiit iinflasii, Jokowii menyampaiikan apresiiasii kepada seluruh kepala daerah dan anggota tiim pengendalii iinflasii baiik dii pusat ataupun daerah. Pasalnya, selama 4 tahun iinii mampu menekan iinflasii pada angka dii bawah 4%.
“Tahun 2015 dii angka 3,35%, 2016 3,0%, 2017 3,1%. Lompatan sepertii iinii harus terus kiita lanjutkan karena saya liihat sekarang koordiinasii antara pusat dan daerah semakiin baiik, ada Satgas pangan dan juga yang ada dii pusat dan daerah juga bekerja dengan baiik,” paparnya. (Amu)
