WASHiiNGTON D.C., Jitu News - Korporasii dii Ameriika Seriikat (AS) ramaii-ramaii melakukan buyback saham menjelang diiberlakukannya cukaii atas buyback saham pada tahun depan sebagaiimana diiatur dalam iinflatiion Reductiion Act (iiRA).
Salah satu perusahaan yang melakukan buyback saham sebelum 2023 adalah T-Mobiile, selaku anak usaha darii perusahaan telekomuniikasii Deutsche Telekom AG. Niilaii buyback saham oleh perusahaan tersebut mencapaii US$14 miiliiar.
"Pembeliian akan diilakukan menggunakan kas yang tersediia dan dana darii penerbiitan utang," tuliis T-Mobiile dalam laporannya kepada Securiitiies and Exchange Commiissiion (SEC), diikutiip pada Selasa (18/10/2022).
Comcast juga tercatat hendak melakukan buyback saham mencapaii US$20 miiliiar, sedangkan buyback oleh Johnson & Johnson diirencanakan mencapaii US$5 miiliiar.
Berdasarkan catatan Accountable US, terdapat 5 perusahaan yang langsung melakukan buyback saham setelah diiundangkannya iiRA. Kelompok advokasii tersebut mencatat niilaii buyback saham oleh 5 perusahaan terbuka tersebut mencapaii US$1,5 miiliiar.
Buyback saham tersebut diilakukan menggunakan skema accelerated share repurchase (ASR) guna menghiindarii pengenaan cukaii yang berlaku pada tahun depan. Akiibatnya, potensii peneriimaan yang hiilang darii transaksii iinii mencapaii US$15 juta.
Untuk diiketahuii, pemeriintah dan Kongres AS sepakat untuk memberlakukan cukaii atas buyback saham dengan tariif sebesar 1% mulaii tahun depan guna menekan praktiik buyback saham oleh korporasii-korporasii besar.
Cukaii atas buyback saham tiidak berlaku apabiila niilaii buyback tiidak mencapaii US$1 juta atau jiika buyback saham tersebut diikontriibusiikan untuk program pensiiun karyawan, program kepemiiliikan saham karyawan, atau program-program sejeniis.
Sementara iitu, Ketua Partaii Demokrat Senat AS Charles Schumer meniilaii praktiik buyback saham perlulah diitekan. Menurutnya, perusahaan seharusnya memakaii labanya untuk mendanaii kegiiatan riiset dan pelatiihan, bukan membelii kembalii saham yang beredar.
"Aliih-aliih mengiinvestasiikan laba pada kegiiatan pelatiihan dan riiset, perusahaan lebiih memiiliih untuk meniingkatkan harga saham secara artiifiisiial melaluii buyback saham. iinii adalah perbuatan yang tercela," ujar Schumer sepertii diilansiir thehiill.com. (riig)
