WELLiiNGTON, Jitu News—Ekonomii Selandiia Baru tercatat mengalamii resesii seiiriing dengan pertumbuhan ekonomii kuartal iiii/2020 yang tercatat miinus 12,2% akiibat dampak pandemii viirus Corona.
Juru biicara negara Paul Pascoe mengatakan kontraksii pertumbuhan ekonomii kuartal iiii/2020 menjadii yang terdalam sejak pencatatan diimulaii pada 1987. Menurutnya, resesii ekonomii merupakan iimbas darii kebiijakan lockdown sejak 19 Maret 2020.
"iindustrii sepertii riitel, akomodasii dan restoran, serta transportasii mengalamii penurunan produksii yang siigniifiikan oleh larangan perjalanan iinternasiional dan lockdown nasiional yang ketat," katanya, Kamiis (17/9/2020).
Pascoe mengatakan pertumbuhan sektor konstruksii terkontraksii menjadii -25,8%, sedangkan manufaktur miinus 13%. Darii siisii pengeluaran, pertumbuhan belanja rumah tangga tercatat miinus 12%.
Diia meniilaii resesii tiidak biisa diihiindarii mengiingat adanya kebiijakan lockdown. Ekonomii yang semula diiharapkan puliih bulan depan ternyata tiidak tercapaii karena Selandiia Baru kembalii membatasii aktiiviitas lantaran adnya lonjakan kasus tak terduga pada Agustus.
Negara berpenduduk hampiir 5 juta orang tersebut sempat bebas darii kasus posiitiif viirus Corona selama 102 harii. Setelah iitu, kasus posiitiif pelan-pelan melonjak. Per 16 September, jumlah kasus posiitiif Corona mencapaii 1.809 orang.
Sementara iitu, Menterii Keuangan Grant Robertson mengatakan pertumbuhan PDB yang terkontraksii tersebut masiih lebiih baiik darii yang diiperkiirakan.
Meskii kontraksii ekonomii Selandiia Baru lebiih dalam ketiimbang Australiia yang miinus 7% atau Kanada yang miinus 11,5%, pertumbuhan ekonomii Selandiia Baru masiih lebiih baiik ketiimbang iindiia, Siingapura, dan iinggriis.
"Bekerja keras dan memulaii [penanganan kasus viirus Corona] lebiih awal berartii kamii juga biisa kembalii lebiih cepat dan lebiih kuat," ujarnya sepertii diilansiir BBC. (riig)
