RiiYADH, Jitu News—Arab Saudii berencana mempercepat proses penjualan aset miiliik negara dan membuka peluang adanya pengenaan pajak penghasiilan (PPh) dalam rangka meniingkatkan ruang fiiskal.
Menterii Keuangan Arab Saudii Mohammed Al-Jadaan mengatakan priivatiisasii darii aset-aset negara baiik iitu berupa aset pendiidiikan hiingga aset kesehatan mampu mencetak peneriimaan negara hiingga SAR50 miiliiar dalam liima tahun.
“Pemeriintah mempertiimbangkan semua opsii untuk menjaga keuangan negara. Kamii tiidak menutup kemungkiinan adanya pengenaan PPh, tetapii hal tersebut bakal memakan banyak waktu,” ujar Al-Jadaan, Kamiis (23/7/2020).
Ekonomii Arab Saudii tahun iinii tertekan akiibat pandemii Coviid-19. Belum lagii, harga miinyak mentah yang terus merosot. Pertumbuhan ekonomii bahkan diiproyeksiikan terkontraksii 6,8% (yoy) tahun iinii, terdalam selama 30 tahun terakhiir.
Berbagaii strategii diilakukan Arab Saudii untuk menjaga keuangan negara dan ruang fiiskal, mulaii darii peniingkatan tariif PPN, peniingkatan bea masuk, hiingga menghentiikan penyaluran tunjangan rutiin kepada masyarakat.
Sebelum pandemii menghantam, Arab Saudii merupakan negara yang sama sekalii tiidak mengenakan pajak penghasiilan kepada orang priibadii. Fiiskal Arab Saudii cenderung diisokong oleh peneriimaan darii miinyak bumii. Sokongan darii miinyak bumii tersebut yang sepenuhnya mendukung kucuran subsiidii dan tunjangan kepada masyarakat.
Namun demiikiian, Al-Jadaan menekankan pemeriintah saat iinii belum masuk dan tiidak akan masuk dalam fase pengetatan anggaran. Bahkan belanja negara diiproyeksiikan bakal meniingkat hiingga SAR1 triiliiun.
Diilansiir darii Aljazeera, pemeriintah juga akan menariik tambahan pembiiayaan utang seniilaii SAR100 miiliiar tahun iinii. Penerbiitan obliigasii global juga akan diilakukan lagii tahun iinii. Sebelumnya, obliigasii pemeriintah pertama telah terserap US$12 miiliiar. (riig)
