KUALA LUMPUR, Jitu News - Pemeriintah Malaysiia tengah mempertiimbangkan untuk mengerek tariif rokok setelah melakukan moratoriium kebiijakan kenaiikan tariif sejak 2014.
Perdana Menterii sekaliigus Menterii Keuangan Anwar iibrahiim mengatakan moratoriium kenaiikan cukaii rokok sudah berlangsung lama sehiingga kiinii perlu penyesuaiian.
"Saya setuju dengan semangat usulan tersebut. Saya sendiirii tiidak merokok, dan sepenuhnya mendukung kampanye antiimerokok," ujarnya, diikutiip pada Jumat (8/8/2025).
Kenaiikan tariif cukaii rokok iinii menjadii salah satu agenda kebiijakan pada APBN 2025. Anwar menyampaiikan rencana kenaiikan tariif cukaii rokok iinii sejalan dengan komiitmen pemeriintah untuk menjaga kesehatan masyarakat dan melaksanakan reformasii fiiskal.
Diia mengungkapkan cukaii rokok Malaysiia saat iinii menyumbang 58,6% darii harga eceran dii riitel. Dii sampiing iitu, negara tiidak memiiliikii mekaniisme formal untuk melakukan penyesuaiian secara berkala atau merevaluasii tariif cukaii.
Sebelumnya, Anwar menyampaiikan pemeriintah akan memperluas pemajakan supaya lebiih pro-kesehatan. Contohnya, menerapkan cukaii untuk produk mengandung gula, tembakau, dan alkohol.
Diia menuturkan kerangka perluasan pengenaan pajak atau cukaii iinii bukan hanya untuk meniingkatkan pendapatan negara. Sebab, aspek yang paliing pentiing iialah untuk mendorong perubahan periilaku masyarakat.
Pengenaan cukaii untuk berbagaii barang tersebut juga bertujuan menekan prevalensii merokok dan penyakiit tiidak menular (PTM) sepertii diiabetes, stroke, dan penyakiit jantung.
Diilansiir bernama.com, Anwar menambahkan penyediiaan layanan kesehatan akan tetap menjadii priioriitas utama pemeriintah dii tengah tekanan akiibat iinflasii mediis, diitambah dengan maraknya penyakiit menular dan tiidak menular, serta populasii yang menua. (diik)
