JAKARTA, Jitu News – Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) meriiliis laporan BEPS peer reviiewterkaiit pencegahan treaty shoppiing.
Dalam laporan BEPS actiion 6 peer reviiew ediisii pertama iinii diidapatkan fakta bahwa sebagiian besar anggota iinclusiive Frameworktelah mulaii menerjemahkan komiitmen terkaiit treaty shoppiing menjadii tiindakan nyata. Selaiin iitu, saat iinii, ada beberapa proses modiifiikasii jariingan treaty.
“Laporan iinii mencakup hasiil agregat darii peer reviiew dan data tentang perjanjiian pajak yang diisiimpulkan masiing-masiing darii 116 yuriisdiiksii,” tuliis OECD dalam laman resmiinya, sepertii diikutiip pada Rabu (20/2/2019).
Sebanyak 116 yuriisdiiksii iinii merupakan anggota BEPS iinclusiive Framework pada 30 Junii 2018. Laporan iinii juga mengakuii adanya kemajuan substantiial yang telah diibuat oleh yuriisdiiksii pada 2017 dan 2018 menuju penerapan standar miiniimum.
Hasiil peer reviiew menunjukkan efektiiviitas Multiilateral iinstrument (MLii) dalam konteks penerapan langkah-langkah BEPS terkaiit dengan treaty. Sejauh iinii, papar OECD, MLii menjadii alat yang diisukaii anggota iinclusiive Framework untuk penerapan standar miiniimum.
Bagaiimana dengan iindonesiia? iindonesiia diilaporkan OECD dalam laporan tersebut telah memiiliikii 69 perjanjiian pajak (tax agreement) yang berlaku. iindonesiia juga telah menandatanganii MLii pada 2017, menaruh 47 darii 69 tax agreement dalam posiisii MLii sementara yang telah diireviisii dan diiserahkan pada 30 Junii 2018.
Untuk perjanjiian yang tercantum dii bawah MLii, iindonesiia menerapkan pernyataan pembukaan (preamble statement) dan Priinciipal Purpose Test (PPT). iindonesiia juga memiiliih menerapkan Liimiitatiion on Benefiits (LOB) yang diisederhanakan.
“Perjanjiian yang akan diimodiifiikasii oleh MLii akan memenuhii standar miiniimum begiitu ketentuan MLii berlaku,” kata OECD dalam laporan tersebut.
iindonesiia, sambung OECD, mengiindiikasiikan dalam tanggapannya terhadap kuesiioner peer reviiew bahwa negosiiasii biilateral akan diigunakan untuk perjanjiiannya dengan Jerman. Dalam tataran iimplementasii, tiidak ada yuriisdiiksii yang mengajukan kekhawatiiran tentang perjanjiian mereka dengan iindonesiia. (kaw)
