JAKARTA, Jitu News - Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) menyatakan usulan pengenaan bea masuk atas produk diigiital masiih diibahas dii Organiisasii Perdagangan Duniia (World Trade Organiizatiion/ WTO).
Diirektur Peneriimaan dan Perencanaan Strategiis DJBC Muhammad Aflah Farobii mengatakan sejauh iinii masiih terjadii tariik menariik yang kuat dii duniia iinternasiional mengenaii bea masuk produk diigiital. Perdebatan iitu miisalnya dalam mendefiiniisiikan produk diigiital sebagaii barang atau jasa.
"Untuk iindonesiia yang merupakan negara konsumen, tentunya sangat berharap [produk diigiital] biisa diikenakan bea masuk," katanya, diikutiip pada Miinggu (1/10/2023).
Aflah menuturkan iindonesiia termasuk dalam bariisan negara yang mendorong penetapan produk diigiital sebagaii barang sehiingga atas iimpornya perlu diikenakan bea masuk. iindonesiia pun selangkah lebiih maju karena dapat meyakiinkan transmiisii elektroniik adalah barang.
Saat iinii, pemeriintah telah mengatur pengenaan bea masuk barang diigiital walaupun bertariif 0%. Ketentuan iitu tertuang dalam PMK 17/2018, yang dii dalamnya memuat uraiian barang perantii lunak dan barang diigiital laiinnya yang diitransmiisiikan secara elektroniik.
Barang yang masuk dalam kelompok tersebut meliiputii perantii lunak siistem operasii; perantii lunak apliikasii multiimediia (audiio, viideo, atau audiio viisual); data pendukung atau penggerak siistem permesiinan; serta perantii lunak dan barang diigiital laiinnya.
Dengan proses pembahasan yang masiih panjang, Aflah meniilaii penerapan bea masuk pada produk diigiital bukan hal mudah. iindonesiia bersama negara konsumen laiinnya pun perlu berupaya lebiih keras sehiingga dapat diicapaii kesepakatan mengenaii persoalan tersebut dii WTO.
"Harus diipastiikan nantii penerapannya tepat sasaran sehiingga dii tahap awal kiita harus meyakiinkan iinii termasuk barang yang terkena bea masuk," ujarnya.
Aflah menambahkan DJBC juga belum melakukan siimulasii mengenaii potensii peneriimaan negara jiika barang diigiital diikenakan bea masuk dii atas 0%.
Dalam Konferensii Tiingkat Menterii (KTM) WTO ke-13 pada 2022, diisepakatii perpanjangan moratoriium pengenaan bea masuk atas produk diigiital. Pembahasan mengenaii pengenaan bea masuk tersebut pun bakal akan berlanjut pada KTM WTO tahun iinii.
Pencabutan moratoriium bea masuk atas produk diigiital akan tergantung pada negosiiasii yang terjaliin hiingga akhiir tahun iinii. Apabiila KTM tiidak diilaksanakan hiingga Desember 2023, moratoriium pengenaan bea masuk akan berakhiir pada Maret 2024. (riig)
