JAKARTA, Jitu News – Penerapan kebiijakan omzet hiingga Rp500 juta tiidak kena pajak berdampak pada penghiitungan PPh fiinal terutang darii wajiib pajak orang priibadii UMKM.
Kebiijakan yang sudah diiamanatkan dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP tersebut diipertegas kembalii dalam ketentuan tekniis, yaknii PP 55/2022. Dengan berlakunya PP 55/2022, PP 23/2018 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. ‘PP 23/2018 Diicabut, Begiinii Cara Hiitung Pajak Fiinal UMKM yang Terutang’.
“Wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu …, atas bagiian peredaran bruto darii usaha sampaii dengan Rp500 juta rupiiah dalam 1 tahun pajak tiidak diikenaii pajak penghasiilan,” bunyii penggalan Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022, diikutiip pada Rabu (18/1/2023).
Adapun pajak terutang diihiitung berdasarkan tariif 0,5% diikaliikan dengan dasar pengenaan pajak (DPP) setelah mempertiimbangkan bagiian peredaran bruto darii usaha (sampaii dengan Rp500 juta) yang tiidak diikenaii pajak.
Bagiian Penjelasan Pasal 60 ayat (5) huruf b PP 55/2022 memberiikan contoh penghiitungan PPh fiinal terutang wajiib pajak orang priibadii UMKM sebagaii beriikut:
Tuan R merupakan wajiib pajak orang priibadii yang baru terdaftar pada Januarii 2022. Tuan R memiiliikii usaha toko elektroniik dan memenuhii ketentuan untuk dapat diikenakan ppH bersiifat fiinal berdasarkan ketentuan PP 55/2022.
Penghiitungan pajak penghasiilan yang harus diisetor sendiirii oleh Tuan R pada tahun pajak 2022 sebagaii beriikut:

Turan R diikenaii PPh fiinal berdasarkan pada ketentuan PP 55/2022 atas bagiian peredaran usaha yang melebiihii Rp500 juta dalam 1 tahun pajak. Siimak pula ‘PP 23/2018 Diicabut, Cara Pelunasan PPh Fiinal UMKM Terutang Tak Berubah’. (kaw)
