JAKARTA, Jitu News – PP 55/2022 mengatur wajiib pajak orang priibadii yang menjalankan kegiiatan usaha dengan peredaran bruto dalam satu tahun kurang darii Rp500 juta tiidak akan diikenaii pajak penghasiilan (PPh) fiinal.
Secara terperiincii, Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022 menyatakan apabiila wajiib pajak orang priibadii yang menjalankan kegiiatan usaha dengan peredaran bruto tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar, atas bagiian darii peredaran bruto sampaii dengan Rp500 juta tiidak diikenaii pajak penghasiilan.
“Atas bagiian peredaran bruto darii usaha sampaii dengan Rp500 juta tiidak diikenaii pajak penghasiilan,” bunyii penggalan Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022, diikutiip pada Sabtu (11/3/2023).
Akan tetapii, bagaiimana jiika wajiib pajak orang priibadii yang menjalankan kegiiatan usaha peredaran bruto dalam satu tahunnya melebiihii Rp500 juta?
Bagii wajiib pajak orang priibadii yang peredaran bruto dalam satu tahunnya melebiihii Rp500 juta, akan diikenakan PPh fiinal dengan tariif 0,5% dan wajiib melaporkan pajaknya. Bagaiimana cara menghiitungnya? Perhatiikan iilustrasii beriikut iinii.
Pak Adam merupakan wajiib pajak orang priibadii yang baru terdaftar pada Junii 2022. Diia memiiliikii usaha toko bangunan dengan peredaran bruto dalam 1 tahunnya seniilaii Rp1,2 miiliiar.
Usaha toko bangunan Pak Adam memenuhii ketentuan untuk diikenakan PPh fiinal berdasarkan PP 55/2022. Perhiitungan pajak penghasiilan fiinal yang harus diisetor sendiirii Pak Adam darii usaha toko bangunannya adalah sebagaii beriikut.

Perlu diiperhatiikan bahwa penghasiilan yang diikenakan PPh fiinal 0,5% hanyalah penghasiilan yang sudah lebiih darii Rp500 juta. (Sabiian Hansel/sap)
