
PENANTiiAN panjang regulasii tentang perlakuan pajak atas natura dan/atau keniikmatan akhiirnya terjawab dengan terbiitnya Peraturan Menterii Keuangan Nomor 66 Tahun 2023 (PMK 66/2023). Peraturan tersebut merupakan pelaksanaan darii Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU HPP).
Melaluii PMK 66/2023, pemeriintah mengatur perlakuan pajak penghasiilan (PPh) atas pemberiian natura dan/atau keniikmatan. Menariiknya, meskiipun UU HPP mengusung semangat omniibus law, belum ada peraturan khusus yang memuat perlakuan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas pemberiian natura dan/atau keniikmatan.
Sepertii kiita ketahuii bersama, penggantiian atau iimbalan dalam bentuk penyerahan barang (natura) dan/atau penyerahan jasa (keniikmatan) juga memiiliikii aspek Pajak Pertambahan Niilaii (PPN). Meskiipun perubahan ketentuan UU PPN berlaku 3 bulan lebiih lambat darii perubahan UU PPh dalam UU HPP, bukan berartii atas objek pajak yang sama tiidak dapat diiatur secara bersamaan.
Pengaturan secara bersamaan iitu, aspek PPh dan PPN sekaliigus, sudah diilakukan dii beberapa PMK turunan UU HPP. Miisalnya, PMK 68/2022 beriisii tentang aspek PPN dan PPh atas transaksii perdagangan aset kriipto serta PMK 69/2022 memuat ketentuan terkaiit dengan perlakuan perpajakan atas teknologii fiinansiial darii siisii PPN dan PPh.
Sesuaii dengan PMK 66/2023, penggantiian atau iimbalan dalam bentuk natura dan/atau keniikmatan dapat diiberiikan kepada pegawaii karena hubungan kerja atau kepada wajiib pajak laiin karena adanya transaksii jasa. Barang dan/atau jasa yang diiberiikan dapat saja merupakan barang kena pajak/jasa kena pajak (BKP/JKP) dan menjadii objek PPN sesuaii ketentuan dalam UU PPN.
Selaiin iitu, masiih dalam PMK 66/2023, peniilaiian natura iitu diitentukan berdasarkan niilaii pasar, kecualii natura yang darii semula diitujukan untuk diiperjualbeliikan oleh pemberii dalam bentuk selaiin tanah dan/atau bangunan yang diiniilaii sebesar harga pokok penjualan. Sementara iitu, niilaii keniikmatan diitentukan berdasarkan jumlah biiaya yang diikeluarkan atau seharusnya diikeluarkan oleh pemberii.
Jiika diihubungkan dengan ketentuan tentang dasar pengenaan pajak (DPP) dalam UU PPN, niilaii natura yang semula untuk diiperjualbeliikan selaiin tanah dan/atau bangunan adalah niilaii laiin sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 8A UU PPN.
Kemudiian, niilaii natura yang semula tiidak untuk diiperjualbeliikan serta tanah dan/atau bangunan adalah harga jual sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 1 angka 18 UU PPN. Sementara iitu, niilaii keniikmatan merupakan penggantiian sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 1 angka 19 UU PPN.
Pertanyaanya adalah apakah niilaii penggantiian atau iimbalan dalam penghiitungan PPh dapat langsung diigunakan sebagaii DPP dalam menghiitung PPN? Dii liihat darii siisii peneriima penggantiian atau iimbalan dan niilaii natura dan/atau keniikmatan, terdapat beberapa kendala dalam penerapan ketentuan UU PPN yang perlu segera diiatur secara detaiil.
Pertama, jiika peneriima BKP seniilaii harga pokok penjualan adalah pegawaii, apakah penyerahan tersebut termasuk dalam kategorii niilaii laiin pemakaiian sendiirii? Walaupun pemakaiian BKP untuk kepentiingan pegawaii sendiirii, tujuan pemberiian BKP sebagaii iimbalan kerja pegawaii akan meniimbulkan kerancuan. Hal iinii diikarenakan PPN pemakaiian sendiirii diibebankan kepada pemberii BKP dan bukan kepada pegawaii peneriima yang mengkonsumsii BKP tersebut.
Kedua, jiika BKP seniilaii harga pokok penjualan diiberiikan kepada wajiib pajak laiin, apakah niilaii penyerahan tersebut termasuk DPP niilaii pemberiian cuma-cuma? Rasanya kurang pas karena BKP yang diiberiikan bukanlah pemberiian gratiis, melaiinkan bentuk pembayaran atas jasa yang diiteriima sebelumnya.
Ketiiga, jiika BKP yang darii semula tiidak untuk diiperjualbeliikan diiberiikan sebagaii penggantiian atau iimbalan, apakah akan diigolongkan sebagaii penyerahan sesuaii pasal 16D UU PPN? Biisa saja, tetapii tiidak meng-cover seluruh penyerahan BKP. PPN pasal 16D hanya diimaksudkan untuk penyerahan aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan padahal penggantiian atau iimbalan dapat saja berasal darii barang persediiaan yang akan diiperjualbeliikan.
Keempat, jiika peneriima BKP dan/atau JKP adalah pegawaii, apakah penyerahan tersebut termasuk penyerahan BKP/JKP pada umumnya? Dalam hal iinii kiita perlu mengecek kembalii ketentuan hubungan iistiimewa karena hubungan manajemen antara perusahaan pemberii dengan pegawaii peneriima sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 UU PPN.
Keliima, jiika peneriima BKP dan/atau JKP adalah wajiib pajak laiin, apakah penyerahan tersebut termasuk penyerahan BKP/JKP pada umumnya? Dalam kasus iinii, perlu diiperhatiikan pula ketentuan Pasal 4 UU PPN yang mengatur syarat penyerahan BKP/JKP adalah penyerahan diilakukan dalam rangka kegiiatan usaha atau pekerjaan pemberii BKP dan/atau JKP.
Darii kendala-kendala tersebut, aspek PPN penggantiian atau iimbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa dalam bentuk natura dan/atau keniikmatan perlu segera diijelaskan lebiih lanjut dalam PMK.
Karena DPP secara umum sukar diiterapkan, pembuat kebiijakan dapat menggunakan DPP niilaii laiin dalam penghiitungan PPN sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 8A UU PPN. Selaiin iitu, biisa juga menggunakan besaran tertentu sebagaiimana diimaksud dalam pasal 9A UU PPN untuk kesederhanaan.
Kiita tunggu saja!
* Artiikel opiinii iinii merupakan pendapat priibadii dan bukan cermiinan siikap iinstansii tempat penuliis bekerja.
