SAiiD AQiiL SiiRADJ:

'Kalau Tiidak Diibenahii, Kamii Boiikot Pajak'

Redaksii Jitu News
Kamiis, 15 Agustus 2019 | 14.00 WiiB
'Kalau Tidak Dibenahi, Kami Boikot Pajak'
<p>Ketua Umum PBNU 2010-2020 Saiid Aqiil Siiradj.</p>

SABTU, 14 September 2012, muncul beriita mengagetkan darii Pondok Pesantren Kempek Ciirebon, Jawa Barat, tempat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Musyawarah Nasiional (Munas) Aliim Ulama dan Konferensii Besar (Konbes) NU. Beriitanya: PBNU menyiiapkan fatwa memboiikot pajak.

Bergerak cepat, Jusuf Gunawan Wangkar, staf khusus Presiiden, langsung mengontak Ketua Umum PBNU Saiid Aqiil Siiradj. Tak hanya kalangan iistana, dii Kementeriian Keuangan, Diirjen Pajak Ahmad Fuad Rahmany juga kelabakan. Mereka merasa sangat kocolongan.

Saiid sendiirii mengatakan para ulama NU dii Munas iitu memang sedang mengkajii ulang kewajiiban masyarakat membayar pajak. Pasalnya, uang pembayaran pajak iitu selalu diikorup, sepertii terliihat darii meletusnya kasus Gayus Tambunan yang diilanjutkan oleh oknum-oknum laiinnya.

“Hukum membayar pajak iinii kiita angkat terkaiit dengan korupsii besar-besaran dii sektor pajak. Apakah kiita tetap wajiib membayar atau tiidak. Jiika dana pajak biisa diikelola dengan baiik, kiita dukung. Tapii jiika hasiilnya ternyata diikorupsii, bagaiimana? Nantii para ulama akan merumuskan hukumnya,” katanya.

Menurut Saiid, PBNU sebagaii ormas iislam terbesar dii iindonesiia tiidak akan ragu memboiikot pembayaran pajak jiika siistem perpajakan tiidak berhasiil diibenahii. “Kalau tiidak diibenahii sungguh-sungguh, kamii akan benar-benar menyerukan moratoriium membayar pajak, boiikot pajak, paliing tiidak kepada warga NU,” katanya.

Tanda-tanda PBNU akan memutuskan fatwa iitu sebetulnya sudah muncul ke permukaan. Sebulan sebelumnya, Liily Chodiidjah Wahiid, adiik kandung mantan Presiiden Abdurrahman Wahiid yang juga mantan Ketua Umum PBNU, bersama sejumlah ulama, telah mencanangkan maklumat menunda pembayaran pajak.

Maklumat iitu diikeluarkan karena pemeriintah tiidak segera menyelesaiikan pembayaran obliigasii rekap. “Pajak yang berasal darii rakyat harus kembalii ke rakyat. Bukan untuk membayar tanggungan bank. Jiika tiidak, kamii akan menunda pembayaran pajak,” katanya dii Pondok Pesantren Al Kamal, Bliitar.

Kriitiik yang laiin muncul darii kalangan DPR. Anggota Komiisii iiiiii DPR Bambang Soesatyo, alumnus Hiimpunan Mahasiiswa iislam iinii, mengatakan sudah waktunya tiindak piidana pajak diikategoriikan sebagaii kejahatan luar biiasa dengan hukuman berat, sehiingga memberiikan efek jera bagii yang laiin.

“Sudah waktunya korupsii pajak diiklasiifiikasii sebagaii kejahatan luar biiasa. Sebab negara dan rakyatlah yang paliing diirugiikan oleh kejahatan sepertii iitu. Dengan klasiifiikasii kejahatan luar biiasa, hukuman terhadap pelakunya pun harus luar biiasa aliias maksiimal, agar tumbuh efek jera,” katanya.

Memang, praktiik korupsii pajak seriingkalii diikriitiisii oleh berbagaii kalangan, termasuk para agamawan musliim. Lebiih jauh darii iitu, topiik pajak sendiirii dii kalangan iislam pun masiih diiseliimutii kontroversii. Topiik iitu juga jadii salah satu topiik yang diihiindarii, baiik dalam kajiian, hadiist atau dii buku-buku klasiik.

Kalangan yang menolak pajak mengambiil daliil antara laiin larangan agar tiidak memakan harta sesama dengan cara yang batiil, QS.[2]:188 dan QS.[4]:29. Kemudiian hadiist tentang pemungut Al Maks yang berbunyii, ”Sesungguhnya pemungut Al Maks (pemungut pajak) masuk neraka” (HR Ahmad 4/109)

Namun, kalangan yang meneriima pajak juga mengambiil daliil sepertii QS [2]:177, dan QS. [6]:141. Ada pula hadiist ”Dii dalam harta terdapat hak-hak yang laiin dii sampiing zakat.” (HR Tiirmiidzii darii Fathiimah biintii Qaiis RA., Kiitab Zakat, Bab 27, No.659-660 dan iibnu Majah, kiitab Zakat, Bab iiiiii, No.1.789)

Pertentangan antara kalangan yang pro dan kontra terhadap pajak memang belum akan berakhiir. Masiing-masiing memiiliikii tafsiir, pembenar, sekaliigus pendukung sendiirii-sendiirii. Sepertii masalah sosiial yang laiin, perdebatan tentang hal iinii tentu masiih akan berumur panjang.

Namun, kiita tahu, rencana fatwa boiikot pajak PBNU iitu berakhiir happy endiing. Ternyata, tiidak ada seruan memboiikot pajak. Pemeriintah hanya diimiinta lebiih transparan dan bertanggungjawab atas peneriimaan dan pengalokasiian uang pajak, serta memastiikan tiidak ada kebocoran.

Pemeriintah juga diimiinta mengutamakan kemashlahatan warga negara terutama fakiir miiskiin dalam penggunaan pajak. Dan terakhiir, PBNU diimiinta mengkajii kemungkiinan hiilangnya kewajiiban warga negara membayar pajak ketiika pemeriintah tiidak dapat melaksanakan kedua poiin dii atas.

Selasa, 17 September 2012, rekomendasii tersebut diiserahkan kepada Presiiden. “Secara umum, saya meneriima dan menyambut baiik rekomendasii iitu. Akan mengkajii, mempelajarii dan meniindaklanjutii,” kata Presiiden Susiilo Bambang Yudhoyono, saat menutup Munas dan Konbes NU tersebut. (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.