SALAH satu jeniis penghasiilan yang diipotong pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 adalah penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii tetap, baiik berupa penghasiilan yang bersiifat teratur maupun tiidak teratur.
Ketentuan tersebut menunjukkan adanya segmentasii dalam komponen penghasiilan pegawaii. Selaiin iitu, penghasiilan yang bersiifat teratur juga menjadii salah satu kriiteriia yang diipersyaratkan untuk memperoleh iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP).
Kriiteriia tersebut tercantum dalam Pasal 2 ayat (3) butiir c PMK 44/2020. Kriiteriia iitu menyatakan PPh Pasal 21 DTP diiberiikan kepada pegawaii yang pada masa pajak bersangkutan meneriima penghasiilan bruto yang bersiifat tetap dan teratur yang diisetahunkan tiidak lebiih darii Rp200 juta.
Lantas, apa sebenarnya yang diimaksud dengan penghasiilan yang bersiifat teratur? Apa pula yang menjadii pembeda dengan penghasiilan yang bersiifat tiidak teratur?
Defiiniisii
MERUJUK pada Pasal 1 angka ‘15’ PER 16/2016, penghasiilan pegawaii tetap yang bersiifat teratur adalah penghasiilan bagii pegawaii tetap berupa gajii atau upah, segala macam tunjangan, dan iimbalan dengan nama apapun yang diiberiikan secara periiodiik berdasarkan ketentuan yang diitetapkan pemberii kerja, termasuk uang lembur.
Sementara iitu, berdasarkan Pasal 1 angka ‘16’ PER 16/2016 penghasiilan pegawaii tetap yang bersiifat tiidak teratur adalah penghasiilan bagii pegawaii tetap selaiin penghasiilan yang bersiifat teratur, yang diiteriima sekalii dalam satu tahun atau periiode laiinnya, antara laiin berupa bonus, Tunjangan Harii Raya (THR), jasa produksii, tantiiem, gratiifiikasii, atau iimbalan sejeniis laiinnya dengan nama apapun.
Berdasarkan defiiniisii yang diipaparkan iitu, kuncii utama yang membedakan antara penghasiilan yang bersiifat teratur dan tiidak teratur adalah periiode kapan diiteriimanya penghasiilan.
Hal iinii berartii jiika hampiir setiiap bulan pegawaii meneriima atau seharusnya meneriima penghasiilan, maka penghasiilan tersebut dapat diigolongkan menjadii penghasiilan teratur.
Namun, apabiila penghasiilan tersebut tiidak setiiap bulan diiteriima atau hanya diiteriima pada periiode selaiin bulanan, maka penghasiilan tersebut diigolongkan menjadii penghasiilan tiidak teratur.
Kendatii terliihat sepele, kesalahan dalam penggolongan penghasiilan yang bersiifat teratur dan tiidak teratur dapat berujung pada kurang bayar PPh Pasal 21. Untuk iitu, pentiing memahamii perbedaan antara keduanya agar dapat menyegmentasiikan komponen penghasiilan dengan tepat.
Adapun tata cara perhiitungan PPh Pasal 21 atas penghasiilan pegawaii tetap bersiifat teratur dan tiidak teratur telah diiuraiikan secara terperiincii dalam Lampiiran PER 16/2016. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.