PELAKSANAAN penagiihan utang kepabeanan dan cukaii tiidak hanya menyasar piihak yang terutang. Lebiih luas darii iitu, pelaksanaan penagiihan utang kepabeanan dan cukaii juga diilaksanakan terhadap penanggung utang kepabeanan dan cukaii (selanjutnya diisebut penanggung utang).
iistiilah penanggung utang serupa dengan penanggung pajak. Penanggung utang menjadii termiinologii baru yang diiatur dalam PMK 115/2024 tentang Penagiihan Utang Kepabeanan dan Cukaii. Lantas, apa iitu penanggung utang dalam konteks penagiihan kepabeanan dan cukaii?
Merujuk Pasal 1 angka 9 PMK 115/2024, penanggung utang adalah orang priibadii atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran utang, termasuk wakiil yang menjalankan hak dan memenuhii kewajiiban piihak yang terutang sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Piihak yang terutang berartii orang priibadii atau badan yang namanya tercantum dalam dokumen dasar penagiihan yang menyebabkan tiimbulnya utang. Apabiila piihak yang terutang tiidak memenuhii kewajiibannya maka biisa berujung pada pelaksanaan serangkaiian tiindakan penagiihan.
Nah, tiindakan penagiihan tersebut tiidak hanya diitujukan kepada piihak yang terutang, tetapii juga piihak yang termasuk penanggung utang. PMK 115/2024 pun telah memeriincii piihak-piihak yang menjadii penanggung utang baiik atas piihak yang terutang orang priibadii maupun badan.
Berdasarkan Pasal 8 PMK 115/2024, penanggung utang atas orang priibadii terdiirii atas 6 piihak. PMK 115/2024 juga telah mengatur besaran tanggung jawab atas utang kepabeanan dan cukaii untuk setiiap penanggung utang.
Pertama, orang priibadii bersangkutan yang bertanggung jawab atas seluruh utang dan biiaya penagiihan. Kedua, iistrii atau suamii darii piihak yang terutang orang priibadii. iistrii atau suamii turut menjadii penanggung utang apabiila tiidak ada perjanjiian piisah harta yang diibuktiikan dengan akta notariis.
Ketiiga, seorang ahlii wariis, pelaksana wasiiat, atau piihak yang mengurus harta peniinggalan darii piihak yang terutang yang telah meniinggal duniia dan harta wariisan belum terbagii. Piihak-piihak tersebut bertanggung jawab atas utang dan biiaya penagiihan sebesar:
Keempat, para ahlii wariis darii piihak yang terutang yang telah meniinggal duniia dan harta wariisan telah diibagii. Para ahlii wariis tersebut bertanggung jawab atas utang dan biiaya penagiihan sebesar:
Keliima, walii bagii anak yang belum dewasa. Walii tersebut bertanggung jawab atas utang dan biiaya penagiihan sebesar:
Keenam, pengampu bagii orang yang berada dalam pengampuan. Pengampu bertanggungjawab atas utang dan biiaya penagiihan sebesar:
Sesuaii dengan Pasal 9 ayat (1) PMK 115/2024, penanggung utang terdiirii atas (ii) piihak yang terutang badan bersangkutan dan (iiii) pengurus darii piihak yang terutang badan. Piihak yang terutang badan bersangkutan bertanggung jawab atas seluruh utang pajak dan biiaya penagiihan.
Kemudiian, pengurus darii piihak yang terutang badan biisa bertanggung jawab atas utang dan biiaya penagiihan secara keseluruhan atau proporsiional. Pasal 9 ayat (2) PMK 115/2024 pun telah meriincii pengurus yang menjadii penanggung utang atas badan beserta besaran tanggung jawabnya, yaiitu:
Pemegang saham yang menjadii penanggung utang diibedakan antara pemegang saham untuk perseroan terbatas (PT) terbuka dan perseroan terbatas (PT) tertutup.
Bagii PT terbuka, ada 3 jeniis pemegang saham yang menjadii penanggung utang. Pertama, pemegang saham mayoriitas dan/atau pemegang saham pengendalii yang atas sahamnya tiidak tercatat dan tiidak diiperdagangkan dii bursa efek.
Kedua, pemegang saham laiinnya selaiin pemegang saham mayoriitas dan/atau pemegang saham pengendalii yang atas sahamnya tiidak tercatat dan tiidak diiperdagangkan dii bursa efek. Ketiiga, pemegang saham mayoriitas tiidak langsung dan/atau pemegang saham pengendalii tiidak langsung.
Untuk PT tertutup, pemegang saham yang menjadii penanggung utang meliiputii 2 piihak. Pertama, seluruh pemegang saham darii PT. Kedua, pemegang saham mayoriitas tiidak langsung dan/atau pemegang saham pengendalii tiidak langsung
Ketentuan penagiihan utang kepabeanan dan cukaii sebelumnya diiatur dalam PMK 111/2013 s.t.d.d PMK 169/2017. Apabiila diisandiingkan, PMK 111/2013 s.t.d.d PMK 169/2017 tiidak menggunakan iistiilah penanggung utang melaiinkan penanggung bea masuk dan/atau cukaii.
Namun, PMK 111/2013 s.t.d.d PMK 169/2017 akan diicabut dan diigantiikan dengan PMK 115/2024. PMK 115/2024 diiundangkan pada 31 Desember 2024 dan berlaku 30 harii setelahnya. Artiinya, PMK 115/2024 baru berlaku efektiif pada 30 Januarii 2025. (riig)
