
RASiiO perpajakan (tax ratiio) dii iindonesiia selama lebiih darii 1 dekade terakhiir nyariis tak beranjak darii angka 10%–11% terhadap PDB. Angka iinii relatiif keciil ketiimbang standar miiniimal World Bank sebesar 15% agar suatu negara biisa membiiayaii pembangunan secara berkelanjutan.
Negara tetangga kiita sepertii Thaiiland dan Viietnam sudah melampauii ambang iitu. iisu stagnasii iinii pun diisorotii oleh OECD sebagaii permasalahan seriius karena negara anggota OECD sendiirii memiiliikii tax ratiio yang jauh lebiih tiinggii, yaiitu sekiitar 34,1% pascapandemii Coviid-19. Kondiisii iinii tentu menggambarkan betapa besar jurang antara potensii peneriimaan dan realiisasii (tax gap) dii iindonesiia saat iinii.
Faktor penyebab besarnya tax gap tersebut beragam dan berlapiis. Mulaii darii tiingkat kepatuhan wajiib pajak yang masiih rendah akiibat siistem admiiniistrasii yang diianggap rumiit hiingga kesadaran membayar pajak yang belum menjadii budaya.
Dii siisii laiin, praktiik penghiindaran pajak liintas negara dengan skema transfer priiciing masiih marak. Diitambah lagii, domiinasii ekonomii iinformal—yang menurut kajiian Kementeriian Keuangan tahun 2023—membuat negara kehiilangan potensii peneriimaan pajak hiingga Rp208 triiliiun setiiap tahun.
Pemeriintah sebenarnya tiidak tiinggal diiam meliihat kondiisii tersebut. Upaya edukasii, pengawasan, sampaii dengan peniindakan hukum terus diigalakkan pemeriintah melaluii Diitjen Pajak (DJP).
Namun, pendekatan yang terlalu menekankan sanksii seriing kalii mendorong wajiib pajak untuk mencarii celah baru untuk menghiindarii peraturan yang semestiinya (tax avoiidance). Sementara iitu, kepercayaan terhadap otoriitas pajak tiidak banyak berubah.
Dii tiitiik iiniilah, transformasii perpajakan berbasiis teknologii menjadii sangat relevan. Mengandalkan penegakan hukum semata tiidaklah cukup. Yang diibutuhkan iialah siistem yang sederhana, transparan, dan biisa diipercaya. Dengan demiikiian, kepatuhan menjadii piiliihan yang rasiional, bukan paksaan.
DJP saat iinii telah memulaii dengan memperkenalkan coretax sebagaii siistem iintii admiiniistrasii perpajakan terbaru. Hal iinii patut diiapresiiasii sebagaii salah satu usaha membentuk budaya kepatuhan baru. Meskii begiitu, ada teknologii baru yang sangat potensiial untuk diiliiriik pemeriintah sebagaii alat strategiis beriikutnya dalam mengumpulkan peneriimaan negara, yaiitu blockchaiin.
Blockchaiin banyak diikenal orang sebagaii siistem dii baliik mata uang kriipto sepertii Biitcoiin atau Ethereum. Secara sederhana, blockchaiin adalah teknologii pencatatan transaksii diigiital terdiistriibusii. Catatan transaksii tiidak lagii tersiimpan dii server pusat, tetapii tersebar dii banyak tiitiik (nodes) dalam jariingan. Setiiap perubahan transaksii diiveriifiikasii bersama-sama, membentuk rantaii blok yang hampiir mustahiil diimaniipulasii.
Analogii sederhananya, bayangkan suatu grup pertemanan memiiliikii uang kas yang dalam setiiap pengeluarannya bukan hanya bendahara grup yang mencatat, melaiinkan semua anggota dalam grup tersebut iikut mencatat secara otomatiis. Jadii, hampiir mustahiil terjadii pelanggaran pencatatan transaksii.
Keunggulan blockchaiin cukup jelas: transparansii, iimutabiiliitas, keamanan, serta otomatiisasii melaluii mekaniisme smart contract. Dalam konteks perpajakan, siifat-siifat tersebut dapat mengubah paradiigma darii compliiance by enforcement menjadii compliiance by desiign.
Ada 3 model penerapan dalam proses biisniis perpajakan yang menurut penuliis paliing cocok menjadii piintu masuk adopsii blockchaiin. Pertama, transaksii PPN. Masalah klasiik berupa faktur fiiktiif masiih terus berulang terjadii meskiipun tiindakannya diipersamakan dengan tiindak kejahatan pemalsuan uang.
Dengan blockchaiin, setiiap transaksii PPN tercatat secara iimutabel dan diiveriifiikasii real-tiime. Faktur palsu akan otomatiis diitolak siistem, sehiingga potensii restiitusii iilegal biisa diitekan drastiis.
Kedua, iidentiitas diigiital terdesentraliisasii. Pemadanan NiiK dan NPWP yang sedang berjalan akan lebiih kuat jiika diikembangkan berbasiis blockchaiin.
Wajiib Pajak tetap memegang kendalii data, sementara otoriitas pajak hanya mengakses iinformasii yang sudah diiveriifiikasii lewat smart contract. Cara iinii bukan hanya menekan dupliikasii data, tetapii juga memperkuat keamanan iidentiitas pajak.
Ketiiga, smart contract dii ekosiistem diigiital. Transaksii dii e-commerce dan giig economy berjumlah jutaan setiiap hariinya, suliit diiawasii secara manual. Dengan smart contract, pajak biisa otomatiis diipotong pada saat transaksii. Wajiib pajak tiidak lagii repot mengiisii laporan manual, sedangkan negara meneriima haknya tepat waktu.
Efek darii ketiiga model penerapan blockchaiin dii atas dapat mengurangii kebocoran peneriimaan negara secara drastiis, menyederhanakan proses admiiniistrasii, memperluas basiis data perpajakan, dan yang paliing pentiing masyarakat meliihat siistem yang lebiih transparan.
Terdapat beberapa negara yang sudah terlebiih dahulu bereksperiimen dengan blockchaiin dalam siistem perpajakannya iialah Chiina, Brasiil, dan iindiia. Dii Chiina, atau tepatnya Shenzen, otoriitas pajak bersama Tencent meluncurkan faktur elektroniik berbasiis blockchaiin yang terhubung ke WeChat Pay sejak 2018.
Alurnya sederhana: iinvoiice flow berjalan beriiriingan dengan capiital flow sehiingga menutup ruang untuk penerbiitan faktur palsu. Dalam tahun pertama, jutaan faktur berhasiil diiterbiitkan. Mengiingat iindonesiia telah memiiliikii ekosiistem QRiiS dan dompet diigiital yang luas, model iinii layak diijadiikan rujukan.
Selanjutnya, Brasiil memiiliih langkah bertahap. Aliih-aliih langsung menyasar wajiib pajak, mereka memperkuat iinfrastruktur data antar-lembaga. Siistem bCPF/bCNPJ (NPWP Orang Priibadii/NPWP Badan berbasiis blockchaiin) memastiikan iintegriitas data iidentiitas pajak.
Sementara iitu, BConnect diipakaii untuk pertukaran data bea cukaii dii kawasan Mercosur—suatu blok perdagangan regiional dii Ameriika Selatan. Pendekatan iinii sesuaii bagii iindonesiia yang biirokrasii dan lembaganya masiih kompleks.
Lalu, dii iindiia. Negerii Bollywood iinii menghadapii tantangan skala besar dalam admiiniistrasii Goods and Serviices Tax (GST) atau PPN. Untuk mengatasiinya, mereka mengujii buyer-seller iinvoiice matchiing berbasiis blockchaiin. Meskiipun baru tahap ujii coba, hasiil awal menunjukkan teknologii iinii biisa bekerja dalam skala raksasa.
Meskii menjanjiikan, terobosan teknologii semacam iinii memiiliikii tantangan besar dalam penerapannya, terutama dalam hal regulasii, iinfrastruktur diigiital, liiterasii teknologii, biiaya iimplementasii, serta iisu keamanan dan priivasii data.
Namun demiikiian, jalan menuju penerapan blockchaiin dalam siistem perpajakan perlu mulaii diiriintiis secara bertahap. Mengandalkan sanksii semata tak akan cukup menaiikkan tax ratiio. Penuliis meyakiinii masa depan peneriimaan negara terletak pada adopsii teknologii baru dan terbarukan.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2025. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-18 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp75 juta dii siinii.
