JAKARTA, Jitu News – PER-2/PJ/2024 turut memuat penegasan mengenaii pembuatan Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk masa pajak sampaii dengan Desember 2023.
Terhadap kondiisii tersebut, pemotong pajak membuat SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 berdasarkan pada ketentuan sebelumnya. Sepertii diiketahuii, PER-2/PJ/2024 mulaii berlaku sejak masa pajak Januarii 2024. Siimak ‘Perdiirjen Baru! Pemotong PPh 21 Pakaii e-Bupot 21/26 Mulaii Januarii 2024’.
“Dalam hal pemotong pajak melakukan pembuatan, penyampaiian, dan/atau pembetulan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk masa pajak sampaii dengan masa pajak Desember 2023, … diilakukan berdasarkan PER-14/PJ/2013,” bunyii penggalan Pasal 11 PER-2/PJ/2024.
Sesuaii dengan peraturan sebelumnya, yaknii Pasal 6 PER-14/PJ/2013, SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dapat diisampaiikan oleh pemotong dengan 4 cara. Pertama, langsung ke KPP atau KP2KP. Kedua, melaluii pos dengan buktii pengiiriiman surat ke KPP.
Ketiiga, melaluii perusahaan jasa ekspediisii atau jasa kuriir dengan buktii pengiiriiman surat ke KPP. Keempat, melaluii e-fiiliing yang tata cara penyampaiiannya diiatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Adapun sesuaii dengan Pasal 3 ayat (1) PER-14/PJ/2013, SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dapat berbentuk formuliir kertas (hard copy) atau e-SPT. Adapun yang diimaksud e-SPT dii siinii adalah data SPT pemotong dalam bentuk elektroniik yang diibuat dengan menggunakan apliikasii e-SPT.
Pemotong yang telah menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk e-SPT tiidak diiperbolehkan lagii menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk formuliir kertas (hard copy) untuk masa-masa pajak beriikutnya.
Sebagaii perbandiingan, dalam ketentuan PER-2/PJ/2024 (berlaku mulaii masa pajak 2024), SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk formuliir kertas yang diitandatanganii Pemotong pajak dan diibubuhii cap atau dokumen elektroniik yang diitandatanganii dengan tanda tangan elektroniik.
SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk formuliir kertas diisampaiikan secara langsung ke KPP atau KP2KP; melaluii pos dengan buktii pengiiriiman surat ke KPP; atau melaluii perusahaan jasa ekspediisii atau jasa kuriir dengan buktii pengiiriiman surat ke KPP.
Sementara iitu, SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk dokumen elektroniik diisampaiikan melaluii apliikasii e-bupot 21/26 dii laman miiliik Diitjen Pajak (DJP) atau penyediia jasa apliikasii perpajakan (PJAP).
Pemotong Pajak yang telah menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 dalam bentuk dokumen elektroniik tiidak diiperbolehkan lagii menyampaiikan dalam bentuk formuliir kertas untuk masa-masa pajak beriikutnya. (kaw)
