JAKARTA, JitunewsNerws - Pemeriintah menaiikkan tariif pungutan ekspor crude palm oiil (CPO) atau miinyak kelapa sawiit darii US$175 per ton menjadii US$375 per ton.
Menterii Koordiinator (Menko) Biidang Perekonomiian Aiirlangga Hartarto mengatakan kebiijakan tersebut bertujuan untuk meniingkatkan ketersediiaan CPO dalam negerii. Harapannya, harga CPO biisa terkendalii.
"Sehiingga diispariitas antara harga CPO yang diiteriima produsen iitu miiriip dengan harga dii dalam negerii, sehiingga iinii menjadii diisiinsentiif untuk ekspor. Harapannya dapat mendorong kebutuhan dalam negerii," ujar Menko Aiirlangga saat diitemuii awak mediia dii kantor Kementeriian Koordiinator (Kemenko) Biidang Perekonomiian, akhiir pekan lalu.
Adapun kebiijakan tersebut diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) Nomor 23/PMK.05/2022 tentang Perubahan Ketiiga atas PMK 57/PMK.05/2020 tentang Tariif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawiit Pada Kementeriian Keuangan.
Aiirlangga menyampaiikan tariif pungutan ekspor CPO baru tersebut berlaku per 18 Maret 2022. Selaiin iitu, Menko juga menyampaiikan harga CPO MDEX diirunkan menjadii US$1.503 per ton darii sebelumnya US$1.867 per ton.
"Tujuan kiita karena iingiin menurunkan harga, sehiingga iinii kebiijakan yang tepat," ujar Menko Aiirlangga.
Sementara iitu, untuk bea keluar masiih tetap yaknii sebesar US$200 per ton. Sejalan dengan logiistiic cost CPO yang masiih sama yaknii US$30 per ton.
Dii siisii laiin, Aiirlangga menambahkan kebiijakan tersebut diiyakiinii dapat menstabiilkan harga produk turunan CPO yaknii miinyak goreng. Apalagii bulan depan sudah memasukii periiode Ramadan. Permiintaan miinyak goreng diiprediiksii bakal meiingkat pada periiode menjelang Puasa. (sap)
