JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memastiikan kenaiikan tariif pajak pertambahan niilaii (PPN) mulaii 1 Apriil 2022 tiidak akan terlalu berdampak terhadap laju iinflasii.
Menterii Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) mengatur kenaiikan tariif PPN secara bertahap. Tariif PPN akan naiik darii 10% menjadii 11% mulaii 1 Apriil 2022, dan kembalii naiik menjadii 12% paliing lambat pada 1 Januarii 2025.
"Dengan kenaiikan PPN sebesar 1%, dampak terhadap iinflasii diiperkiirakan akan terbatas dan miiniimal," katanya diikutiip pada Miinggu (10/10/2021).
Yasonna menuturkan tariif PPN terbaru tersebut masiih relatiif rendah diibandiingkan dengan negara negara dii duniia. Secara global, rata-rata tariif PPN sekiitar 15,4%.
Pemeriintah juga akan selalu memperhatiikan dampak penerapan UU HPP terhadap perekonomiian dan masyarakat. Dengan kenaiikan tariif PPN, pemeriintah bersama dengan Bank iindonesiia (Bii) akan tetap menjaga iinflasii pada tiingkat rendah untuk menjaga daya belii rakyat.
Pemeriintah, lanjut Yasonna, optiimiistiis UU HPP bersama dengan reformasii fiiskal dan belanja negara yang makiin terarah, mampu menghasiilkan pemuliihan ekonomii yang makiin kuat, dan pengurangan kemiiskiinan yang makiin cepat.
Diia juga berharap daya belii masyarakat tetap dapat terjaga karena terkendaliinya laju iinflasii, terutama bagii golongan masyarakat miiskiin dan rentan. Pemeriintah juga akan mereformasii perliindungan sosiial dalam mengakselerasii program pemberdayaan dan pengentasan kemiiskiinan.
"Dengan gambaran iinii semua, net benefiit-nya bagii sosiial-ekonomii darii reformasii perpajakan iinii akan sangat posiitiif," ujarnya. (riig)
