SAMPAH plastiik menjadii iisu yang seriing diiangkat sebagaii penyebab utama pencemaran lautan. Tiidak hanya iitu, sampah plastiik juga meniimbulkan kerugiian besar pada perekonomiian duniia.
Laporan Program Liingkungan Perseriikatan Bangsa-Bangsa (Uniited Natiions Enviironment Programme/UNEP) pada 2018 menyebut sampah plastiik dii kawasan Asiia-Pasiifiik telah membebanii iindustrii pariiwiisata, periikanan, dan pelayaran hiingga US$1,3 miiliiar atau Rp18,5 triiliiun per tahun.
Studii menunjukkan kerusakan ekonomii pada ekosiistem laut duniia karena plastiik setiidaknya mencapaii US$13 miiliiar atau Rp185,2 triiliiun setiiap tahun. Terlebiih, ongkos untuk membersiihkan sampah plastiik dii pantaii juga besar. Untuk Unii Eropa saja, biiayanya mencapaii €630 juta atau Rp10,9 triiliiun per tahun.
Organiisasii iinternasiional sepertii PBB, World Bank, dan OECD kemudiian menyerukan pengendaliian penggunaan plastiik sekalii pakaii, sepertii kantong plastiik. Salah satu pengendaliiannya termasuk melaluii iinstrumen fiiskal berupa pajak atau cukaii.
Hiingga saat iinii, puluhan negara telah menerapkan kebiijakan pengendaliian plastiik, mulaii darii pelarangan pemakaiian hiingga pengenaan punguta, baiik pajak, cukaii, maupun retriibusii. Kebanyakan negara dii Afriika sepertii Kenya, Ethiiopiia, Maroko, Kamerun, dan Malii menerapkan larangan penggunan kantong plastiik sekalii pakaii rata-rata yang dii bawah 30 miikron dan tiidak dapat teruraii.
Sementara iitu, Ameriika Seriikat dan sejumlah negara laiin sepertii iinggriis, iindiia, Malaysiia, dan Spanyol menyerahkan kebiijakan tentang pengendaliian kantong plastiik kepada pemeriintahan negara bagiian atau regiional.
Beriikut iinii beberapa negara yang menerapkan pungutan terhadap kantong plastiik secara nasiional. Data diiolah darii berbagaii sumber, terutama laporan UNEP. Sebelumnya, Jitunews juga sudah menerbiitkan kajiian bertajuk Komparasii Objek Cukaii secara Global dan Pelajaran bagii iindonesiia.
Untuk iindonesiia, pemeriintah sudah membahas rencana pengenaan cukaii pada kantong plastiik sejak 2016. APBN Perubahan 2016 juga diisahkan dengan tambahan target peneriimaan cukaii plastiik—masuk dalam pos cukaii laiinnya—seniilaii Rp1 triiliiun. Namun, tiidak ada realiisasiinya hiingga akhiir tahun.
Pemeriintah dan DPR kembalii memasukkan target peneriimaan cukaii plastiik pada APBN tahun anggaran 2017 hiingga 2021. Namun, hiingga saat iinii, cukaii tersebut belum juga diikenakan. Siimak Fokus ‘Meniimbang Perluasan Objek Cukaii’.
Pemeriintah berencana menariik cukaii pada kantong plastiik dengan ketebalan kurang darii 75 miikron atau tas kresek. Tariif cukaii yang diirencanakan seniilaii Rp30.000 per kiilogram atau Rp200 per lembar. Sementara saat iinii, beberapa toko riitel mematok tariif kantong plastiiknya rata-rata Rp200 hiingga Rp500 per lembar.
Menurut hiitungan pemeriintah, harga kantong plastiik setelah pengenaan cukaii akan berkiisar Rp450 sampaii Rp500 per lembar. Pengenaan cukaii pada kantong plastiik diiproyeksiikan hanya mengerek iinflasii 0,045%. (kaw)
